1 Des 2013

Semalam di Hogan, Rumah Tradisional Indian

Tepat pukul 5:30 subuh, kami menggunakan bus yang berkapasitas antara 40-50 orang menuju Downtown Phoenix, Arizona untuk menjemput rombongan lainnya. Pagi ini kami akan berangkat ke salah satu reservasi Indian terbesar di Amerika Serikat, Navajo Reservation. Sebuah petualangan yang sudah lama saya nantikan. Saya dan beberapa orang kawan lainnya akan mendapatkan kesempatan untuk melihat dan merasakan bagaimana kehidupan penduduk asli Amerika ini. Bahkan, malam ini kami akan tidur di Hogan, rumah asli suku Indian, Navajo.
__________________________________
Baca Juga :
__________________________________

Setelah group kedua menaiki bus yang kami tumpangi, perjalanan dilanjutkan ke arah utara Phoenix, menuju perbatasan negara bagian Arizona dan Utah. Perjalanan menuju reservasi Indian terbesar di Amerika ini diikuti oleh kurang lebih 30 orang dari 2 program yang berbeda. Perjalanan menuju tempat tersebut memerlukan waktu kurang lebih 6 jam. Namun, setelah 2 jam berjalan, kami harus singgah di Yavapai College. Yavapai College adalah sebuah perguruan tinggi komunitas di Prescott, Arizona. Di sini kami mempresentasikan program yang sedang kami ikuti yaitu International Leader in Education Program (ILEP) dan Hurbert Humfrey for Journalist. Setelah presentasi, kami melakukan diskusi kelompok dengan mahasiswa dan pengajar Yavapai College. Saya juga berkesempatan untuk bertanya kepada Presiden Yavapai College bagaimana membangun sebuah perguruan tinggi komunitas. Saya sangat tertarik mengetahui bagaimana mereka mengelola institusi tersebut, karena saya tahu pemerintah Indonesia juga sedang berusaha untuk membangun sekolah komunitas. Beliau menjanjikan akan mengirim semua file bagaimana mengelola sebuah sekolah komunitas, tipikal orang Amerika yang selalu senang membantu.

Setelah berdiskusi, kami dilayani makan siang. Pertemuan singkat yang mengesankan. Mahasiswa Yavapai College yang terdiri dari lintas usia juga sangat ramah. Kami berdiskusi tentang banyak hal terutama mengenai pendidikan di negara masing-masing.

Perjalanan kamipun dilanjutkan. Bus yang sangat nyaman tersebut meluncur dengan tenang menuju perbatasan Arizona dan Utah. Perjalanan tersebut juga didukung oleh kualitas jalan yang sangat baik, lurus dan besar. Sebagian besar jalan yang kami lewati sangat mulus dan 2 jalur. Di kiri dan kanan terhampar gurun berbatu. Ditambah lagi dengan hiasan rumput kering khas gurun sepanjang mata memandang. Saya juga menikmati tingkah lucu kuda-kuda liar yang berkeliaran di sepanjang gurun kering tersebut.

Didalam bus kami saling berkenalan dengan peserta dari program yang berbeda. Teman-teman baru kami ini adalah para jurnalis dari seluruh dunia yang sedang mengikuti Program Hubert Humfrey di Arizona State University selama satu tahun. Diantara mereka ada yang producer film dokumenter, Anchor TV, Penyiar radio dan lain sebagainya.

Setelah berjalan selama lebih kurang 3 jam, Bus kami berhenti di persimpangan Navajo Reservation, Kayenta, Arizona.

Disana kami beristirahat sebentar, beberapa teman membeli makanan ringan. Saya dan seorang teman dari Uganda juga memanfaatkan kesempatan itu untuk berfoto di sekitar pemberhentian tersebut.

Perjalanan dilanjutkan ke Navajo Reservation. Pemandangan gurun berbatu kembali disuguhkan di kiri-kanan kami. Tak terasa perbatasan Arizona dan Utah pun kami masuki. Kamipun memasuki negara bagian Utah, namun hanya 10 menit saja, setelah itu kami kembali masuk Arizona. Jalan interstate yang melengkung membuat kami hanya sebentar mengecap jalanan Utah. Begitu yang disampaikan sopir bus kami yang sangat komunikatif.

Setelah satu jam sejak Kayenta tadi, kami pun sampai di Monument Valley Navajo Tribal Park. Udara yang kering, sinar matahari yang penuh adalah suguhan pertama yang kami rasakan ketika turun dari bus. Pemandangan monumen batu yang besar menjulang di lembah gurun tersebut. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Tak ayal lagi, kesempatan tersebut adalah momen penting untuk mengambil gambar. Semua fellows sibuk berfoto, sampai-sampai tak mendengar panggilan dari supervisor kami untuk bersiap merasakan petualangan selanjutnya. Kami diminta menaiki Jeep besar. Rombongan kami dibagi 2 jeep. Kami akan berkeliling Navajo reservation tersebut, untuk melihat views menarik. Petualangan dengan jeep pun dimulai.

Menuruni lembah berdebu, dikelilingi tiang-tiang batu raksasa membuat saya berdecak kagum. Agen perjalanan yang menemani kami adalah Indian asli. Mereka adalah keturunan Navajo asli. Navajo sendiri adalah salah satu suku Indian. Navajo Nation sendiri adalah daerah semi otonom suku asli Amerika seluas 71.000 Km persegi yang mencakup wilayah timur laut Arizona, sebelah tenggara Utah dan Barat laut New Mexico. Jadi daerah semi otonom ini mencakup 3 negara bagian yaitu Arizona, Utah dan New Mexico. Daerah ini adalah tempat suku asli Indian Amerika terbesar. Mereka juga punya lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif sendiri.
Source : Wikipedia
Pas saya liat di wikipedia, ada foto yang keren banget dari Edward S. Curtis (1904), ada 7 pengendara kuda dan anjing pelacak dengan latar belakang dinding batu raksasa.

Kami terus berkeliling, pemberhentian pertama kami adalah pasar kerajinan perak suku asli Navajo. Banyak sekali kerajinan yang terbuat dari perak dan juga batu alam. Setelah itu, kami diantar oleh guide untuk melihat view yang sangat menarik. Salah satunya adalah atap batu yang terlihat seperti mata elang. Pengelola reservasi ini mengemas perjalanan ini dengan sangat baik. Di sini, mereka menceritakan (story telling) bagaimana leluhur mereka berbaring di bawah atap batu tersebut dan menikmati pemandangan mata elang.

Mereka juga memamerkan permainan alat musik tiup Navajo. Suling tersebut berbentuk segitiga dan ditiup di salah satu sudutnya.

Perjalanan dilanjutkan menuju tempat makan malam. Sekali lagi, mereka pandai sekali mengemas paket perjalanan ini. Kami disuguhkan makan malam yang hangat dan bersahabat. Setelah makan malam di tepi dinding batu raksasa tersebut, kami kembali mendengar story telling mereka. Kali ini mereka lengkap dengan pakaian tradisional Indian. Saya dan teman yang lain tak lupa untuk mengabadikan momen tersebut.

Makan malam pun usai, story telling pun berakhir. Setelah menari bersama di tepi api unggun, kami pun berpisah. Sebagian besar rombongan memilih untuk menginap di hotel, sebagian kecil memutuskan untuk menginap di Hogan, rumah tradisional Suku Navajo. Saya termasuk kedalam kelompok kecil tersebut. Saya berpikir, kesempatan sekali seumur hidup ini tidak boleh lepas begitu saja.

2 Jeep yang tersisa kembali mengarungi padang pasir pedalaman Amerika. 15 menit berjalan dari tempat makan malam tadi, tibalah kami di perumahan Indian tersebut. Terdapat dua Hogan disana, saya dan 5 orang pria lainnya menempati salah satunya. Kawan-kawan yang perempuan menempati Hogan lainnya. Hogan adalah rumah tradisional duku Navajo.

Apa beda Apache dan Navajo?
Apache dan Navajo memili kesamaan akar dan tata bahasa. Mereka berasal dari Alaska dan Northwest. Mereka bermigrasi ke selatan, tepatnya Southwest America tempat kediaman mereka saat ini sebelum kedatangan spanyol di Tanah Amerika. Keduanya Rumah Tradisional Navajo disebut Hogan sedangkan rumah tradisional Apache disebut wikieups. 

Hogan tidak memiliki listrik, air, toilet dan sebagainya. Semuanya dilakukan di alam :-)
Bagian dalam Hogan terbuat dari kayu yang disusun membulat. Bagian luarnya ditutupi tanah. Hal ini untuk membentengi penghuni rumah dari udara dingin. Hogan terdiri dari satu ruangan lepas saja. Dengan diameter lebih kurang 4-5 meter. Di tengah-tengah terdapat perapian yang terbuat dari besi berbentuk kotak dibawahnya dihubungkan dengan pipa ke atap. Di kotak besi tersebut kayu dibakar untuk menghangatkan ruangan.

Setelah meletakan barang bawaan, kami memanfaatkan waktu mengelilingi lokasi dan berfoto tentunya. Michelle, photographer profesional berkebangsaan Brazil, yang selalu menemani kegiatan internasional Student di Arizona State University, menunjukan kebolehannya. Dia mengambil gambar kami satu persatu dengan trik Lampu LED yang digerak secara acak dan diakhiri dengan menembakan lampu flash kamera tepat ke muka. Dan hasilnya seperti ini :

Photo yang sangat menarik menurut saya. Photo dengan latar dinding batu raksasa Monument Valley, dihiasi langit penuh bintang. Kami mengambil photo ini berulang-ulang sampai Michelle menyerah dan akhirnya mengajarkan kami satu persatu cara mengambil photo seperti itu dan dia pergi menikmati kegelapan disekitar Hogan. 

6 orang Pria yang menginap di Hogan malam itu berasal dari 2 program berbeda. 2 orang peserta International Leader In Education Program (ILEP) yaitu saya dan seorang teman dari Malaysia. 3 Orang teman-teman jurnalis peserta Hubert Humfrey Program. Masing-masing dari Mesir, Serbia dan Macedonia. Satu orang lagi Michelle, Photographer yang baru saja menyelesaikan studinya di ASU.

Menjelang pukul 12 malam, saya dan teman dari Malaysia menghabiskan waktu duduk di depan Hogan sambil menghabiskan bekal makanan yang saya bawa.

Setelah puas menikmati malam, kami masuk ke Hogan dan merebahkan diri dalam sleeping bag. Saya melanjutkan cerita dengan teman dari Mesir dan Macedonia. Macam-macam cerita yang kami bahas malam itu, mulai dari kondisi pemerintahan Mesir saat itu, Kristen Ortodoks di Macedonia, Israel dan Pelestina sampai pada masalah pribadi. 

Waktu semakin larut, kawan dari Mesir bangkit untuk menambah kayu bakar di perapian, saya pun tertidur.

Esoknya, kami bangun pagi sekali karena ingin mengejar momen matahari terbit. Meski penat masih terasa di badan, keinginan untuk tidak menyiakan kesempatan langka ini menguatkan semangat pagi saya. Setelah berkemas dan menyelesaikan urusan pribadi, kami bersiap berangkat. Tapi tak lupa berfoto dulu di depan Hogan

Kami meluncur ke view matahari terbit dengan 2 jeep. Udara pagi yang dingin di lembah bukit batu raksasa pun tak segan menampar wajah saya :-)

Setelah sampai di view matahari terbit itu, suasana damai menyelimuti. 
Kami tak puas mengambil gambar. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Kami melanjutkan perjalanan ke view makan malam tadi, untuk menikmati sarapan pagi. Setelah itu, kami kembali  ke gerbang Navajo Reservation. 

Berikut foto karya Michelle yang selalu mengabadikan kegiatan kami dengan sangat apik.

Monument Valley yang katanya salah satu view Film Transformer 2014
ILEP Fellows 2013
ILEP's Jumping
Saya sangat menikmati perjalanan ini. Karena waktu yang sangat terbatas, kami harus kembali ke Phoenix dan singgah di Sedona, Arizona. Dijalan pulang, kami juga singgah di Flagstaff, kota tua yang dilalui oleh Route 66 yang terkenal itu. Saya bersyukur akan pengalaman tak terlupakan ini.

Silahkan berkomentar sobat.

Salam Berry Devanda

8 komentar:

Ketikan Komentar anda dengan memilih pada opsi beri komentar sebagai Name/URL....