30 Jan 2017

Program Literasi Guru

Teman-teman blogger, berikut saya copy kan tulisan saya tentang Program Literasi Guru yang pernah dimuat pada Harian Padang Ekspress pada tanggal 24 Desember 2016. Berikut tulisan tersebut.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Program Literasi Guru
Oleh : Berry Devanda
Defenisi literasi mengalami perubahan sesuai dengan zaman. Beberapa dekade yang lalu literasi dapat diartikan membaca dan menulis saja. Bormuth (1973, p. 9) berpendapat bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan kemampuan dasar yang berharga bagi setiap manusia. Bourmuth, lebih jauh menjelaskan bahwa dengan kemampuan tersebut manusia bisa berkomunikasi dan menguasai ilmu pengetahuan. Sementara itu, pada saat sekarang literasi diartikan sebagai ‘kemampuan seseorang untuk memahami, mengevaluasi, menggunakan teks tertulis untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, mencapai tujuan, mengembangkan kemampuan dan potensi’ (OECD, 2016, p. 38). Perubahan defenisi terjadi karena kebutuhan manusia yang terus berubah sesuai dengan kondisi zaman. Salah satu contoh adalah beberapa dekade yang lalu seseorang hanya diminta memiliki kemampuan membaca dasar, namun saat ini karena tuntutan pekerjaan, seseorang diminta untuk memiliki kemampuan membaca dan menulis pada tingkat tertentu. Kemampuan literasi yang rendah akan menyulitkan seseorang dalam memahami sebuah petunjuk teknis kegiatan, sebagai contoh, instruksi minum obat dari dokter dan lain sebagainya. Mengingat fungsinya yang penting, maka peningkatan kemampuan literasi akan berdampak positif pada kehidupan seseorang.
OECD pada tahun 2016 merumuskan enam tingkatan kemampuan literasi orang dewasa. Tingkatan paling rendah adalah dibawah 1 dan paling tinggi adalah level 5. Seseorang yang memiliki kemampuan dibawah level 1 hanya dapat memahami teks pendek yang tidak memerlukan pengetahuan struktur kalimat dan paragraf untuk menyelesaikannya. Pada tingkatan tertinggi (level 5), seseorang mampu menggabungkan informasi dari banyak teks dan membuat model logika. Pada tahapan ini, seseorang dapat mengevaluasi realibilitas sebuah teks dan kemudian mengambil kesimpulan level tinggi.
UNESCO pada tahun 2015 melaporkan bahwa 93.9% penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun dilaporkan sudah melek aksara, namun kemampuan literasi masyarakat Indonesia masih dikategorikan rendah. Data terbaru melaporkan bahwa kurang dari 1% orang dewasa (usia 16 sampai 65 tahun) di Jakarta yang memiliki kemampuan literasi tertinggi (Kankaraš, Montt, Paccagnella, Quintini, & Thorn, 2016). Pada level tertinggi ini, orang dewasa mampu untuk mengintegrasi, menginterpretasi dan mensintesa informasi yang panjang dan kompleks. Disisi lain, hampir 70% orang dewasa Jakarta memiliki kemampuan literasi yang rendah yaitu pada level 1 atau lebih rendah (OECD, 2016). Persentase tersebut merupakan nilai terbesar dari 33 negara yang disurvey. Walaupun hasil survey tersebut tidak secara langsung dapat disimpulkan mewakili kondisi Indonesia, temuan di Ibu kota negara tersebut memberikan gambaran tentang diperlukannya usaha untuk meningkatan kemampuan literasi orang dewasa atau angkatan kerja. Mengingat pentingnya kemampuan literasi bagi kesuksesan orang dewasa dan data OECD (2016) tentang rendahnya kemampuan literasi angkatan kerja termasuk guru, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan kemampuan literasi.
Guru membutuhkan kemampuan literasi yang baik untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya yang tertulis dalam pasal 20 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Salah satu contoh adalah kewajiban untuk melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu. Pembelajaran yang bermutu dapat dilaksanakan oleh guru dengan persiapan yang baik, kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, penguasaan pengetahuan ilmu pendidikan. Kemampuan literasi yang baik sebagai salah satu bentuk keahlian, akan membantu guru berinovasi (Wright & Sissons, 2012), sehingga kewajiban guru untuk menghadirkan proses pembelajaran yang bermutu di dalam kelas dapat tercapai. Guru yang memiliki kemampuan literasi yang baik dapat mengumpulkan informasi dengan efektif untuk melaksanakan pembebelajaran yang bermutu. Selain itu, kemampuan literasi guru yang baik diprediksi juga dapat meningkatkan kualitas komunikasi tertulis dengan siswa, contohnya komentar pada hasil kerja siswa dan juga komentar pada rapor siswa.
Kemampuan literasi yang baik juga dibutuhkan guru untuk memenuhi salah satu standar kompetensi yaitu melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Menyusun laporan PTK membutuhkan beberapa keahlian seperti membaca efektif untuk dapat menemukan teori pendukung di dalam Kajian Pustaka. Disisi lain, juga dibutuhkan kemampuan untuk mengelompokan literatur berdasarkan topik yang sedang diteliti. Oleh karena itu, kemampuan literasi menjadi hal sangat penting untuk melakukan kajian pustaka pada penyusunan laporan PTK. Mengingat untuk dapat menemukan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber bacaan merupakan tantangan tersendiri dalam menyusun laporan PTK, maka kemampuan literasi menjadi hal yang sangat penting.
            Disamping kemampuan membaca yang baik, penyusunan laporan PTK juga membutuhkan kemampuan menulis. Kemampuan menulis seperti menghilangkan kata yang tidak perlu dalam kalimat membutuhkan pengalaman menulis dan latihan. Disisi lain, membuat paragraf yang memiliki ide pokok yang jelas juga membutuhkan latihan. Lebih jauh, menghubungkan satu paragraf dengan paragraf sebelum atau sesudahnya juga merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam membuat karya tulis ilmiah seperti laporan PTK.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan sekolah untuk meningkatkan kualitas literasi guru adalah dengan ‘Program Literasi Guru’. Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan juga ditekankan bahwa sekolah mempunyai tugas untuk membantu pengembangan profesionalisme guru. Pada tahap awal, sekolah harus membentuk tim Program Literasi Guru. Tim tersebut dipimpin sendiri oleh kepala sekolah dan beranggotakan perwakilan wakil kepala sekolah, guru dan staf sekolah serta komite sekolah. Jumlah anggota tim disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan sekolah. Tim tersebut bertugas untuk merancang, menjalankan dan mengevaluasi program ini. Lebih jauh, tim ini yang bertanggung jawab untuk menentukan tujuan program, rincian kegiatan, rancangan pendanaan dan evaluasi.
Sebelum memulai merencanakan program lebih jauh, sekolah melalui tim yang sudah dibentuk melakukan identifikasi kemampuan literasi guru-guru. Tahapan ini penting karena dapat mengumpulkan informasi tentang sejauh mana level kemampuan literasi guru. Selain memberikan data tentang kondisi literasi guru, informasi tersebut dijadikan dasar atau acuan dalam menentukan prioritas kegiatan peningkatan kemampuan literasi guru. Analisa awal ini juga akan memberikan informasi tentang tantangan dan hambatan yang akan dihadapi pada upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi guru ini.
Langkah berikutnya adalah merancang bentuk kegiatan sesuai dengan analisis kebutuhan yang sudah dilakukan. Beberapa program dapat dijadikan pilihan untuk meningkatkan kemampuan literasi guru salah satunya adalah pelatihan berkelanjutan. Pelatihan berkelanjutan adalah pelatihan berkesinambungan yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu misalnya satu semester. Dalam rentangan waktu tersebut, setiap minggunya, dipilih satu topik khusus untuk disajikan. Beberapa topik berkaitan dengan kemampuan membaca yang dapat dimasukan kedalam program literasi guru adalah teknik membaca cepat, teknik membaca efektif menjadi pembaca aktif. Selain itu, beberapa topik pelatihan untuk meningkatkan kemampuan menulis guru adalah memahami struktur falam kalimat kompleks, teknik untuk menghilangkan kata-kata yang tidak perlu dalam kalimat, membuat kalimat kompleks dan menulis paragraf yang ideal. Pelatihan tersebut juga dapat dikombinasikan dengan program sekolah lainnya seperti pelatihan penulisan laporan PTK.
Salah satu tantangan dari pelatihan ini adalah menghadirkan instruktur atau tutor, namun permasalahan ini dapat diselesaikan melalui beberapa cara. Instruktur pelatihan dapat diminta dari dua kelompok. Kelompok pertama didatangkan dari perguruan tinggi terdekat sedangkan kelompok kedua dapat dimanfaatkan guru-guru dari kelompok mata pelajaran Bahasa seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Guru-guru tersebut juga dapat didatangkan dari sekolah lainya dengan memanfaatkan peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Topik-topik yang dibahas dalam satu semester didistribusikan kepada kedua pihak untuk dipilih dengan mempertimbangkan faktor keilmuan, biaya dan waktu.
Metoda pelatihan harus mengedepankan unsur kolaborasi. Pembelajaran kolaboratif mempunyai banyak manfaat baik secara akademik maupun sosial. Manfaat pembelajaran kolaboratif secara akademik diantaranya adalah meningkatkan kemampuan berprikir kritis dan mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif (Laal & Ghodsi, 2012, p. 487). Lebih jauh, Laal and Ghodsi (2012) menjelaskan bahwa secara sosial, salah satu manfaat pembelajaran kolaboratif adalah menciptakan komunitas pembelajar. Untuk membuat pelatihan lebih kontekstual, bahan ajar yang digunakan hendaknya berhubungan langsung dengan tugas guru seperti analisa Permendikbud tentang dengan standard penilaian. Analisa tersebut dapat langsung dituangkan sebagai salah satu kajian pustaka pada penulisan laporan PTK.
Waktu pelaksanaan setiap minggu yang efektif adalah satu jam oleh karena itu topik yang disajikan dalam pelatihan haruslah spesifik. Massachusetts Institute of Technology menyarankan mahasiswanya untuk membagi waktu belajarnya kedalam beberapa bagian. Durasi waktu belajar yang efektif adalah satu jam. Lebih jauh, belajar yang paling efektif adalah dalam satu jam dengan rincian 50 menit belajar dan 10 menit jeda. Jika program pelatihan peningkatan literasi guru ini dirancang dengan baik, maka penggunaan waktu satu jam dalam tiap sesi latihan adalah yang paling efektif.
Ada beberapa sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan kegiatan ini. Sumber dana pertama adalah dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Menurut standar pengelolaan dana BOS Sekolah Menengah Atas (SMA), salah satu komponen pembiayaannya adalah peningkatan mutu guru. Salah satu poin pada standar itu disebutkan bahwa Dana BOS dapat digunakan untuk mengadakan ‘In House Training (IHT)/workshop/lokakarya untuk peningkatan mutu’. Pembiayaan tersebut diantaranya dapat meliputi (poin D) biaya fotokopi, konsumsi dan jasa profesi bagi narasumber.
            Sumber pendanaan kedua bisa didapatkan dari swadaya guru sendiri. Mengingat program ini bermanfaat untuk meningkatkan profesionalisme, guru dapat diminta untuk berpartisipasi dalam bentuk membawa sendiri makan siang mereka. Para guru juga dapat berpartisipasi dalam bentuk mengganti biaya fotokopi bahan pelatihan. Disamping itu, sumber pendanaan ketiga juga dapat diperoleh dari pihak ketiga seperti pemerintah daerah dan lembaga-lembaga lainnya. 

Efektifitas peran sekolah dalam meningkatkan kemampuan literasi guru melalui Program Literasi Guru ini dapat diketahui dengan evaluasi yang baik. Rencana evaluasi ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan program ini sudah tercapai. Disisi lain, evaluasi program ini juga dapat memberikan informasi spesifik tentang kualitas bahan ajar yang digunakan selama pelatihan dan juga instruktur, tepat atau tidaknya metoda latihan yang digunakan, efektifnya durasi waktu latihan dan teknologi yang digunakan. Lebih jauh, evaluasi ini juga memberikan gambaran tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas program ini dimasa yang akan datang.
readmore »»  

2 Apr 2016

10 Mobile Applications for Education

10 Mobile applications for education are discussed below. Some of them can be run in both Android and iOS while others particularly in one operating system only. Basically, all of them are free apps and can be used in K12 and college. The applications can be used as assessment, presentation, collaboration, organization and tools for helping learning to be more engaging. Those tools promote various level of cognitive abilities based on Revised Bloom Taxonomy which are remember, understand, apply, analyse, evaluate and create (Krathwohl 2002).

1. Socrative
https://b.socrative.com/login/student/
This mobile app is free and can be run on Apple and Android system. It is mainly developed as an assessment tool. Teachers can develop quizzes and collect the result in real time. Various types of questions are offered by this tool i.e. multiple choice, short answer and true-false questions. As the quizzes are ready to deliver, teachers will get a unique number to be sent to their students so that they are able to log in and then access the test. I personally will use this app to do formative assessment of my students’ ability. On the other hand, It allows student to have different levels of cognitive abilities such as remember, understanding, apply and analyse, evaluate and create which depends on what the assessment intend to measure.

2. Molecules
https://itunes.apple.com/us/app/molecules
It is a free iOS-based application. It offers 3D model of various protein, DNA and microorganism. As those are abstract, this application brings the real picture which make learning more contextual. Interestingly, students are able to zoom in and out, spin the model which can engage them to the learning. This tool is very helpful to contextualize the lesson. Additionally, we can also add new model to the application. It offers various cognitive level such as remember and understanding as students see the models. It also allows students to create their own model which is application level of their knowledge. It also helps teacher to easily visualize the model.

3. Evernote
https://play.google.com/store/apps
Basically Evernote is free and can be run in many system operations such as android and iOS. This tool helps teachers and students to organize their work. Teachers are able to put all learning resources in this application. additionally, it also allows them to put meeting notes, parent contact logs, teaching schedule and lesson plans. On the other hand, students are able to organize their work using this app such as notebook, attachment and other resources. Even though it not necessarily promotes cognitive abilities of the students, it helps students to have affective domain ability which is characterization. This affective level consists how students are able to manage, resolve, revise their-self which can be linked indirectly to learning outcomes (Boyle et al. 2007)



4. Edmodo
https://api.edmodo.com/login
Edmodo is free academic social media platform which offers interaction between teachers and student and also student and student. It looks like Facebook, one of the most social media in the world and can be run in iOS and Android based system. It allows online student-teacher interaction. Interestingly, Edmodo allows student to know their grade just like Blackboard system. Moreover, Parents are also able to monitor their children’ progress. Even though I have experience using Facebook, I will use Edmodo to interact with my students and manage my lesson. This app allows students to work collaboratively and discuss particular topic related to their lesson, task, homework or assignment. As they discuss a topic, for example, they are developing ‘analyse’ level of their cognitive ability.


5. YouTube
www.youtube.com
YouTube is one of the famous website which is free and can be run in all system. It offers many videos which can be used as learning resources. Personally, I love to use YouTube in classroom in explaining theory in physics which is needed to be visualized for example Einstein’s Relativity Theory. It helps to make the lesson easier. Apart from bad internet connection in my school, this tool improves the quality of learning in my class. YouTube allows students to develop all levels of cognitive abilities. For example, students are able to ‘create’ (the highest level of thinking) their own video related to particular topics.


6. Blog
https://www.blogger.com/
This tool is free and can be run all types of operating system. Blogs can be used to apply and analyse what students have learned in the classes. For example, students can post their analysis on particular topic in form of essay or report. Moreover, this tool can also be utilized as a medium to post their evaluation on another topic. This tool also allows students to put comment on their peers’ post which also promotes collaborative learning. I personally use blog as medium to announce important topics by restricting the access so that only my students can view the contents. Other teachers could use blog to work collaboratively with their students.




7. Oxford Dictionary of English
https://play.google.com/store/apps
This is a free application and can be run in many operating systems such as android and iOS. This mobile dictionary offers more than 350,000 words, phrases and meanings. Students can replace their printed dictionary to this app. This app also promotes Bring Your Own Devices (BYOD) which allows students to experience wide range tools to improve the quality learning process in the class. I personally will use this app in teaching English or to understand certain definitions in physics. This tool helps students to have some level of cognitive abilities such as remember, understand and apply some words into sentences in English.





8. FX Calculus Problem Solver
https://play.google.com/store/apps
This application is android-based and free. It offers wide range of math problems that can be used by students at senior high school and college. This tool can replace scientific calculator which is more likely expensive. Teachers can ask their students to bring their own devices to the class and access this application to solve math problems such matrix, differentiation, integration, limit and graphing. I personally will use this app to show my students how to get a formula of particular topic such as velocity acceleration which require integration and differentiation. This app promotes some level of cognitive abilities such as remember, understand, apply and analyse.





9. Atlas 2016
https://play.google.com/store/apps
This is a free android-based application. It provides offline maps which consist political world map, map of North America, Europe and World Time Zone. This tool not only can be used in Geography lesson but also in History, Sociology and other lessons. Students do not have to bring their printed atlas to the class which saves space. Teachers might use this app in the class to locate areas when teaching history or geography. This app can also be used to trigger discussion on particular topic which promotes some level of cognitive abilities such as remember, understand, apply and analyse.  






10. Prezi
https://prezi.com/
Prezi is web-based presentation and basically free. It can be run on many operating systems. Even though it is much easier to create a presentation in full website, the mobile version allows students and teachers to practice presentation they made. This app offers interactive presentation by zoom in and out mode which makes it different from other softwares. I personally will create presentations in full website and use my mobile phone to practice and present in the class by connecting it to projector or TV using HDMI cable. Students can also do the same. When using to create presentation on particular topic, this app promotes students’ cognitive abilities such as apply, analyse, evaluate and create.



References

Boyle, A, Maguire, S, Martin, A, Milsom, C, Nash, R, Rawlinson, S, Turner, A, Wurthmann, S & Conchie, S 2007, 'Fieldwork is Good: the Student Perception and the Affective Domain', Journal of Geography in Higher Education, vol. 31, no. 2, 2007/05/01, pp. 299-317.

Krathwohl, DR 2002, 'A revision of Bloom's taxonomy: An overview', Theory Into Practice, vol. 41, no. 4, pp. 212-218.


readmore »»  

10 Jan 2015

Pagi Ke Empat Di Adelaide

Jam tangan saya menunjukan pukul 09.30. Ini adalah pagi ke empat saya di Adelaide. Saya masih ingat, hari pertama disini cuacanya sangat panas dan kering sekali, jika tidak salah berkisar 32-35 derajat celcius. Namun, mulai kemarin malam, berubah menjadi dingin, setidaknya dingin menurut ukuran saya walaupun sebenarnya saat ini sedang summer. Saat saya menulis postingan ini, suhu 15 derajat namun terasa 11 derajat celcius. Begitu yang tertulis di aplikasi cuaca yang dapat dengan mudah di akses di mobile phone. Menurut aplikasi tersebut, sampai dua hari kedepan, cuaca Adelaide masih akan terus seperti itu dengan peluang hujan di atas 60%.

Saya menginjakan kaki di Adelaide pada hari Selasa, lebih kurang pukul 12.30 setelah sebelumnya transit di Sydney. Bersama teman-teman yang lain, kami dijemput pihak universitas. Saya dan 5 orang teman di angkut dalam satu van menuju temporary accomodation masing-masing. Perbincangan mengenai segala sesuatu yang boleh dan tidak di flat yang mau ditempati mengawali komunikasi saya dengan landlord. Setelah meletakan koper, saya dan seorang teman berbelanja kebutuhan sehari-hari ke supermarket terdekat, beruntung seorang teman dari Indonesia yang baru di kenal mau mengantar kami kesana dengan mobilnya.

Perjalanan melanjutkan studi ke Australia ini dimulai satu setengah tahun yang lalu, ketika mengisi aplikasi Australia Award Scholarship (AAS). Dari proses pengiriman aplikasi ke panggilan untuk mengikuti wawancara dan tes IELTS berlangsung selama 6 bulan. Sebulan kemudian pengumuman kelulusan baru didapat. Tahap berikutnya adalah mengikuti Pre Departure Training (PDT) selama 6 bulan di IALF Jakarta.Proses training di IALF sangat membantu sekali dalam menyiapkan keberangkatan ke Australia.

Hari Pertama di University of Adelaide
Besoknya, kami sudah berada di kampus pada pukul 11.00 untuk menyelesaikan masalah enrollment dan student ID card. Kami menggunakan Bus J1, salah satu rute Adelaide Metro (yang sampai saat ini masih membingungkan bagi saya) dan berhenti di depan universitas. Semua urusan tersebut diawali di International Students Center (ISC), kemudian baru kami di bawa ke Hub Central tempat mahasiswa di universitas ini berkumpul. Disana juga saya membeli metro card buat naik bus, tram dan train. setelah melakukan campus tour, saya dan beberapa teman bergerak ke Rundle Street untuk membuka akun Bank. Setelah akun bank selesai, kami pun melanjutkan kegiatan dengan membeli sim card.

Kembali ke flat dengan menggunakan bus yang sama. Terlihat warga kota ingin kembali ke rumah masing-masing sehingga isi bus agak padat dibandingkan pagi tadi. Banyak list pekerjaan yang harus diselesaikan seperti menghapal jalur metro bus, menemukan permanen accomodation, mengupgrade asuransi buat kedatangan keluarga dan sebagainya. Semoga saja segala harapan dan list target yang di buat dapat tercapat di kota ini.

Salam dari Mile End, Adelaide, South Australia.
readmore »»  

5 Feb 2014

Pendaftaran ILEP 2014

Sobat, pendaftaran International Leader in Education Program (ILEP) Tahun 2014 telah dibuka. Buat anda yang berprofesi sebagai guru SMP, SMA dan SMK layak untuk mencoba ikut dalam kegiatan ini. ILEP adalah sebuah kegiatan peningkatan profesionalisme guru tingkat dunia yang diselenggarakan oleh Department of State, USA. Pengalaman saya mengikuti kegiatan ini pada tahun 2013 memberikan kesan yang sangat positif dalam kehidupan profesional sebagai guru dan kehidupan pribadi. Bagi anda yang belum tahu tentang ILEP bisa membaca tulisan saya sebelumnya "International Leader In Education Program" dan "International Leader In Education Program Part 2"

Banyak sekali pelajaran hidup yang saya bawa pulang selepas kegiatan ini. Saya yakin anda juga akan mendapatkan pengalaman itu jika terpilih sebagai salah satu awardee di tahun 2014 ini (keberangkatan 2015). Selain pengalaman akademik, kuliah di salah satu universitas di Amerika yang telah ditunjuk oleh pemerintah Amerika serikat, pengalaman budaya dan jalan-jalan pun akan jadi bahan menarik untuk diceritakan ke anak cucu nantinya.

Aplikasi ILEP 2014 dapat anda download di website Aminef. Mungkin tulisan saya sebelumnya "Panduan Pengisian Form ILEP 2013" dapat membantu anda untuk mengisi Form ILEP 2014.  Sekilas saya melihat form aplikasi ILEP 2014 tidak banyak berbeda dengan tahun sebelumnya.

Saya juga pernah menuliskan pengalaman mengikuti tahapan wawancara ILEP 2013 disini. Mungkin juga dapat menjadi referensi bagi anda yang lolos ke tahap berikutnya. Jika anda lolos pada tahapan wawancara, maka kesempatan anda untuk menjadi awardee ILEP 2014 akan sangat besar setelah mendapat approve dari Washington DC.

Mendapat email bahwa nama anda menjadi salah satu peserta yang diterima sebagai awardee ILEP 2014 adalah hal yang sangat melegakan, seperti minum minuman ringan dingin setelah berjalan di bawah terik matahari. Tahap selanjutnya adalah mengikuti Pre Departure Orientation (PDO) dan Mengurus Visa Ke Amerika. Anda juga bisa baca pengalaman saya ketika mengurusnya.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumya, banyak sekali pengalaman seru yang akan anda jalani jika menjadi awardee ILEP. Pengalaman internship di sekolah menengah di Amerika, bekerja sama dengan guru Amerika, membangun jaringan internasional di bidang pendidikan. Dan yang tak kalah seru, tentu saja jalan-jalan ke view menarik di Amerika sana. Seperti pengalaman saya Menginap Semalam di Hogan, Rumah Indian.Siapkan diri anda, penuhi syarat minimal dan segera kirim aplikasinya.


Jabat Erat
Berry Devanda
readmore »»  

27 Des 2013

Jadwal Penting Bidik Misi dan SBMPTN 2014

Program pembiayaan pendidikan untuk mahasiswa Sarjana, Bidik Misi  kembali dibuka. Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktrat Pendidikan Tinggi (Dikti) telah membuka pendaftaran sejak tanggal 12 Desember 2013. Program Bidik Misi ini telah banyak membiayai putra-putri Indonesia untuk meraih cita-cita mereka menjadi sarjana. Bidik Misi memberikan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan dan Bantuan biaya hidup kepada mahasiswa yang memiliki potensi akademik yang baik namun tidak mampu secara ekonomi.

Pendaftaran Bidik Misi 2014 dimulai dengan registrasi sekolah pada tanggal 12 Desember 2013. Sedangkan pendaftaran siswa dimulai tanggal 1 Januari 2014. Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2014 jalur undangan juga akan dibuka 1 Februari 2014. Pendaftaran SBMPTN 2014 akan ditutup pada tanggal 1 Maret 2014.

Pelaksanaan Ujian Tulis SBMPTN 2014 akan dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2014 s.d 10 Juni 2014. Jadwal selengkapnya, yang dikutip dari website Bidik Misi, dapat dilihat seperti berikut :


readmore »»  

1 Des 2013

Semalam di Hogan, Rumah Tradisional Indian

Tepat pukul 5:30 subuh, kami menggunakan bus yang berkapasitas antara 40-50 orang menuju Downtown Phoenix, Arizona untuk menjemput rombongan lainnya. Pagi ini kami akan berangkat ke salah satu reservasi Indian terbesar di Amerika Serikat, Navajo Reservation. Sebuah petualangan yang sudah lama saya nantikan. Saya dan beberapa orang kawan lainnya akan mendapatkan kesempatan untuk melihat dan merasakan bagaimana kehidupan penduduk asli Amerika ini. Bahkan, malam ini kami akan tidur di Hogan, rumah asli suku Indian, Navajo.

Setelah group kedua menaiki bus yang kami tumpangi, perjalanan dilanjutkan ke arah utara Phoenix, menuju perbatasan negara bagian Arizona dan Utah. Perjalanan menuju reservasi Indian terbesar di Amerika ini diikuti oleh kurang lebih 30 orang dari 2 program yang berbeda. Perjalanan menuju tempat tersebut memerlukan waktu kurang lebih 6 jam. Namun, setelah 2 jam berjalan, kami harus singgah di Yavapai College. Yavapai College adalah sebuah perguruan tinggi komunitas di Prescott, Arizona. Di sini kami mempresentasikan program yang sedang kami ikuti yaitu International Leader in Education Program (ILEP) dan Hurbert Humfrey for Journalist. Setelah presentasi, kami melakukan diskusi kelompok dengan mahasiswa dan pengajar Yavapai College. Saya juga berkesempatan untuk bertanya kepada Presiden Yavapai College bagaimana membangun sebuah perguruan tinggi komunitas. Saya sangat tertarik mengetahui bagaimana mereka mengelola institusi tersebut, karena saya tahu pemerintah Indonesia juga sedang berusaha untuk membangun sekolah komunitas. Beliau menjanjikan akan mengirim semua file bagaimana mengelola sebuah sekolah komunitas, tipikal orang Amerika yang selalu senang membantu.

Setelah berdiskusi, kami dilayani makan siang. Pertemuan singkat yang mengesankan. Mahasiswa Yavapai College yang terdiri dari lintas usia juga sangat ramah. Kami berdiskusi tentang banyak hal terutama mengenai pendidikan di negara masing-masing.

Perjalanan kamipun dilanjutkan. Bus yang sangat nyaman tersebut meluncur dengan tenang menuju perbatasan Arizona dan Utah. Perjalanan tersebut juga didukung oleh kualitas jalan yang sangat baik, lurus dan besar. Sebagian besar jalan yang kami lewati sangat mulus dan 2 jalur. Di kiri dan kanan terhampar gurun berbatu. Ditambah lagi dengan hiasan rumput kering khas gurun sepanjang mata memandang. Saya juga menikmati tingkah lucu kuda-kuda liar yang berkeliaran di sepanjang gurun kering tersebut.

Didalam bus kami saling berkenalan dengan peserta dari program yang berbeda. Teman-teman baru kami ini adalah para jurnalis dari seluruh dunia yang sedang mengikuti Program Hubert Humfrey di Arizona State University selama satu tahun. Diantara mereka ada yang producer film dokumenter, Anchor TV, Penyiar radio dan lain sebagainya.

Setelah berjalan selama lebih kurang 3 jam, Bus kami berhenti di persimpangan Navajo Reservation, Kayenta, Arizona.

Disana kami beristirahat sebentar, beberapa teman membeli makanan ringan. Saya dan seorang teman dari Uganda juga memanfaatkan kesempatan itu untuk berfoto di sekitar pemberhentian tersebut.

Perjalanan dilanjutkan ke Navajo Reservation. Pemandangan gurun berbatu kembali disuguhkan di kiri-kanan kami. Tak terasa perbatasan Arizona dan Utah pun kami masuki. Kamipun memasuki negara bagian Utah, namun hanya 10 menit saja, setelah itu kami kembali masuk Arizona. Jalan interstate yang melengkung membuat kami hanya sebentar mengecap jalanan Utah. Begitu yang disampaikan sopir bus kami yang sangat komunikatif.

Setelah satu jam sejak Kayenta tadi, kami pun sampai di Monument Valley Navajo Tribal Park. Udara yang kering, sinar matahari yang penuh adalah suguhan pertama yang kami rasakan ketika turun dari bus. Pemandangan monumen batu yang besar menjulang di lembah gurun tersebut. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Tak ayal lagi, kesempatan tersebut adalah momen penting untuk mengambil gambar. Semua fellows sibuk berfoto, sampai-sampai tak mendengar panggilan dari supervisor kami untuk bersiap merasakan petualangan selanjutnya. Kami diminta menaiki Jeep besar. Rombongan kami dibagi 2 jeep. Kami akan berkeliling Navajo reservation tersebut, untuk melihat views menarik. Petualangan dengan jeep pun dimulai.

Menuruni lembah berdebu, dikelilingi tiang-tiang batu raksasa membuat saya berdecak kagum. Agen perjalanan yang menemani kami adalah Indian asli. Mereka adalah keturunan Navajo asli. Navajo sendiri adalah salah satu suku Indian. Navajo Nation sendiri adalah daerah semi otonom suku asli Amerika seluas 71.000 Km persegi yang mencakup wilayah timur laut Arizona, sebelah tenggara Utah dan Barat laut New Mexico. Jadi daerah semi otonom ini mencakup 3 negara bagian yaitu Arizona, Utah dan New Mexico. Daerah ini adalah tempat suku asli Indian Amerika terbesar. Mereka juga punya lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif sendiri.
Source : Wikipedia
Pas saya liat di wikipedia, ada foto yang keren banget dari Edward S. Curtis (1904), ada 7 pengendara kuda dan anjing pelacak dengan latar belakang dinding batu raksasa.

Kami terus berkeliling, pemberhentian pertama kami adalah pasar kerajinan perak suku asli Navajo. Banyak sekali kerajinan yang terbuat dari perak dan juga batu alam. Setelah itu, kami diantar oleh guide untuk melihat view yang sangat menarik. Salah satunya adalah atap batu yang terlihat seperti mata elang. Pengelola reservasi ini mengemas perjalanan ini dengan sangat baik. Di sini, mereka menceritakan (story telling) bagaimana leluhur mereka berbaring di bawah atap batu tersebut dan menikmati pemandangan mata elang.

Mereka juga memamerkan permainan alat musik tiup Navajo. Suling tersebut berbentuk segitiga dan ditiup di salah satu sudutnya.

Perjalanan dilanjutkan menuju tempat makan malam. Sekali lagi, mereka pandai sekali mengemas paket perjalanan ini. Kami disuguhkan makan malam yang hangat dan bersahabat. Setelah makan malam di tepi dinding batu raksasa tersebut, kami kembali mendengar story telling mereka. Kali ini mereka lengkap dengan pakaian tradisional Indian. Saya dan teman yang lain tak lupa untuk mengabadikan momen tersebut.

Makan malam pun usai, story telling pun berakhir. Setelah menari bersama di tepi api unggun, kami pun berpisah. Sebagian besar rombongan memilih untuk menginap di hotel, sebagian kecil memutuskan untuk menginap di Hogan, rumah tradisional Suku Navajo. Saya termasuk kedalam kelompok kecil tersebut. Saya berpikir, kesempatan sekali seumur hidup ini tidak boleh lepas begitu saja.

2 Jeep yang tersisa kembali mengarungi padang pasir pedalaman Amerika. 15 menit berjalan dari tempat makan malam tadi, tibalah kami di perumahan Indian tersebut. Terdapat dua Hogan disana, saya dan 5 orang pria lainnya menempati salah satunya. Kawan-kawan yang perempuan menempati Hogan lainnya. Hogan adalah rumah tradisional duku Navajo.

Apa beda Apache dan Navajo?
Apache dan Navajo memili kesamaan akar dan tata bahasa. Mereka berasal dari Alaska dan Northwest. Mereka bermigrasi ke selatan, tepatnya Southwest America tempat kediaman mereka saat ini sebelum kedatangan spanyol di Tanah Amerika. Keduanya Rumah Tradisional Navajo disebut Hogan sedangkan rumah tradisional Apache disebut wikieups. 

Hogan tidak memiliki listrik, air, toilet dan sebagainya. Semuanya dilakukan di alam :-)
Bagian dalam Hogan terbuat dari kayu yang disusun membulat. Bagian luarnya ditutupi tanah. Hal ini untuk membentengi penghuni rumah dari udara dingin. Hogan terdiri dari satu ruangan lepas saja. Dengan diameter lebih kurang 4-5 meter. Di tengah-tengah terdapat perapian yang terbuat dari besi berbentuk kotak dibawahnya dihubungkan dengan pipa ke atap. Di kotak besi tersebut kayu dibakar untuk menghangatkan ruangan.

Setelah meletakan barang bawaan, kami memanfaatkan waktu mengelilingi lokasi dan berfoto tentunya. Michelle, photographer profesional berkebangsaan Brazil, yang selalu menemani kegiatan internasional Student di Arizona State University, menunjukan kebolehannya. Dia mengambil gambar kami satu persatu dengan trik Lampu LED yang digerak secara acak dan diakhiri dengan menembakan lampu flash kamera tepat ke muka. Dan hasilnya seperti ini :

Photo yang sangat menarik menurut saya. Photo dengan latar dinding batu raksasa Monument Valley, dihiasi langit penuh bintang. Kami mengambil photo ini berulang-ulang sampai Michelle menyerah dan akhirnya mengajarkan kami satu persatu cara mengambil photo seperti itu dan dia pergi menikmati kegelapan disekitar Hogan. 

6 orang Pria yang menginap di Hogan malam itu berasal dari 2 program berbeda. 2 orang peserta International Leader In Education Program (ILEP) yaitu saya dan seorang teman dari Malaysia. 3 Orang teman-teman jurnalis peserta Hubert Humfrey Program. Masing-masing dari Mesir, Serbia dan Macedonia. Satu orang lagi Michelle, Photographer yang baru saja menyelesaikan studinya di ASU.

Menjelang pukul 12 malam, saya dan teman dari Malaysia menghabiskan waktu duduk di depan Hogan sambil menghabiskan bekal makanan yang saya bawa.

Setelah puas menikmati malam, kami masuk ke Hogan dan merebahkan diri dalam sleeping bag. Saya melanjutkan cerita dengan teman dari Mesir dan Macedonia. Macam-macam cerita yang kami bahas malam itu, mulai dari kondisi pemerintahan Mesir saat itu, Kristen Ortodoks di Macedonia, Israel dan Pelestina sampai pada masalah pribadi. 

Waktu semakin larut, kawan dari Mesir bangkit untuk menambah kayu bakar di perapian, saya pun tertidur.

Esoknya, kami bangun pagi sekali karena ingin mengejar momen matahari terbit. Meski penat masih terasa di badan, keinginan untuk tidak menyiakan kesempatan langka ini menguatkan semangat pagi saya. Setelah berkemas dan menyelesaikan urusan pribadi, kami bersiap berangkat. Tapi tak lupa berfoto dulu di depan Hogan

Kami meluncur ke view matahari terbit dengan 2 jeep. Udara pagi yang dingin di lembah bukit batu raksasa pun tak segan menampar wajah saya :-)

Setelah sampai di view matahari terbit itu, suasana damai menyelimuti. 
Kami tak puas mengambil gambar. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Kami melanjutkan perjalanan ke view makan malam tadi, untuk menikmati sarapan pagi. Setelah itu, kami kembali  ke gerbang Navajo Reservation. 

Berikut foto karya Michelle yang selalu mengabadikan kegiatan kami dengan sangat apik.

Monument Valley yang katanya salah satu view Film Transformer 2014
ILEP Fellows 2013
ILEP's Jumping
Saya sangat menikmati perjalanan ini. Karena waktu yang sangat terbatas, kami harus kembali ke Phoenix dan singgah di Sedona, Arizona. Dijalan pulang, kami juga singgah di Flagstaff, kota tua yang dilalui oleh Route 66 yang terkenal itu. Saya bersyukur akan pengalaman tak terlupakan ini.

Silahkan berkomentar sobat.

Salam Berry Devanda
readmore »»