23 Jul 2017

Sekolah dan Pendidikan Remaja

Teman-teman, saya ingin membagi pandangan saya tentang peran apa yang bisa dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak remaja kita. Pandangan ini dimuat di Harian Padang Ekspress (Group Jawapos) pada tanggal 14 Juli 2017. Silahkan dikomentari.

Sekolah dan Pendidikan Remaja
Oleh : Berry Devanda
Guru SMAN 1 Koto XI Tarusan dan
Alumni School of Education The University of Adelaide, Australia

Kasus pencabulan yang dilakukan oleh empat orang siswa pada salah satu sekolah di Kecamatan Bayang, Kabupaten pesisir selatan (Padek, 13/7) adalah fakta persoalan remaja yang membuat banyak masyarakat prihatin. Kasus pencabulan yang dilakukan oleh anak remaja di daerah lain juga banyak diberitakan oleh media massa. Persoalan ini perlu mendapat perhatian banyak pihak. Pola pengasuhan remaja juga perlu didiskusikan kembali. Apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi persoalan remaja tersebut? Sebagai tempat remaja menghabiskan sebagian besar waktunya setiap hari,  solusi apa yang dapat ditawarkan oleh sekolah?
Banyak faktor yang menyebabkan seorang remaja melakukan perbuatan menyimpang seperti pelecehan seksual. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan orang tua dalam mengasuh (parenting skills) anak remaja. Sebagian orang mungkin hanya meniru apa yang telah dilakukan orang tua mereka dulu dan menerapkannya pada anak-anak remaja mereka. Sebagian lain mungkin saja mendapatkan pengetahuan dari sumber lain seperti teman, internet, media massa dan lainnya. Disaat yang sama, sebagian orang tua mungkin saja perlu perjuangan yang besar untuk dapat membangun komunikasi yang baik dengan anak remajanya. Disisi lain, anak remaja mungkin saja merasa tidak memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang tuanya sehingga merasa tidak nyaman untuk menceritakan hal-hal yang bersifat sensitif.
Anak remaja memiliki beberapa karakteristik. World Health Organization (WHO) mendefinisikan anak remaja dari usia 10 sampai 19 tahun. Pada rentang usia tersebut, terjadi perubahan besar dalam hidup anak remaja baik dari segi fisik maupun mental. Remaja tidak lagi memerlukan perlakuan seperti anak-anak pada umumnya namun juga belum mampu untuk mengemban tanggung jawab sebagai orang dewasa (Robinson, 2006). WHO juga menjelaskan bahwa pada masa remaja tidak hanya terjadi perubahan besar berupa pendewasaan fisik dan mental tapi mereka juga menghadapi beberapa resiko. Masalah yang dihadapi anak remaja saat ini adalah penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seks dini, perilaku menyimpang dan lainnya.
Persoalan remaja tersebut dapat dikurangi salah satunya dengan cara meningkatkan ikatan antara orang tua dan anak remajanya. Ikatan yang kuat dapat menghindarkan anak remaja dari prilaku yang merusak dirinya maupun orang lain. Namun, sebagian orang tua tidak memiliki kecakapan yang baik dalam mengasuh anak remaja. Untuk itu perlu usaha untuk meningkatkan kemampuan mengasuh orang tua.
Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan mengasuh anak remaja adalah melalui program pelatihan keterampilan terpadu mengasuh anak remaja (Thomas, B et al 2013). WHO (2007) menjelaskan bahwa kegiatan peningkatan kemampuan orang tua tentang remaja berbasis sekolah ini memiliki beberapa tujuan yaitu meningkatnya pengetahuan orang tua dan kemampuan komunikasinya, meningkatnya pengetahuan tentang dunia remaja, meningkatkan hubungan orang tua dengan sekolah dan meningkatkan hubungan sesama orang tua siswa.
Program pelatihan ini dapat diselenggarakan di sekolah. Kegiatan pelatihan terpadu ini dapat berupa kelas orang tua seperti yang dirancang oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Kelas orang tua yang dimaksud pada kasus ini dapat diartikan sebagai sebuah wadah khusus yang disediakan sekolah bagi orang tua yang memiliki anak-anak remaja. Tujuan kelas ini adalah untuk meningkatkan kepekaan orang tua terhadap masalah yang dihadapi oleh anak remajanya. Selain itu, kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas orang tua dalam memecahkan masalah anak remajanya di rumah. Selain itu, program ini juga untuk meningkatkan kemampuan orang tua untuk dapat membangun komunikasi dengan anak remajanya untuk mendiskusikan hal-hal sensitif seperti masalah seksual dan lain sebagainya.
Kegiatan program pelatihan ini berupa kelas orang tua yang diselenggarakan sekolah ini dapat dilakukan secara terstruktur. Pada kelas tersebut, disajikan ragam materi yang mencakup aspek dengan mengundang psikolog, tenaga kesehatan, kepolisian dan dari pihak sekolah sendiri. Waktu pelaksanaan dapat dirancang satu kali setiap semester dengan durasi waktu yang cukup. Sekolah diharapkan dapat memasukan program ini ke dalam program tahunan dengan menggunakan sumber pendanaan yang memungkinan.
Porsi interaksi yang besar antara anak remaja dengan orang tua dan guru merupakan aspek potensial untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anak remaja. Disisi lain, tidak semua kebutuhan pendidikan anak remaja dapat terpenuhi oleh pihak sekolah. Untuk itu penguatan peran orang tua dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak remaja adalah sebuah peluang yang dapat dimanfaatkan.
Program ini perlu didukung dengan meningkatkan sumber daya sekolah dalam hal pola asuh anak remaja. Pembentukan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga pada pemerintahan Presiden Joko Widodo perlu diapresiasi. Dimasukannya pendidikan keluarga kedalam organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang berada dibawah Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat adalah langkah maju. Kebijakan ini juga dapat diartikan sebagai usaha pemerintah untuk melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi peningkatan kualitas anak bangsa terutama anak-anak remaja. Langkah ini juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap unsur penting dalam pendidikan yaitu keluarga.
Untuk itu, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dapat membekali sekolah untuk training of trainer kegiatan pelatihan tersebut. Diakhir training tersebut peserta diharapkan mampu mengelola kegiatan pelatihan di sekolah masing-masing. Disamping itu, perlu disediakan dokumen panduan pendidikan remaja berbasis sekolah oleh pemerintah. Panduan tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kurikulum, modul pelatihan dan bentuk evaluasi yang akan dilakukan untuk mengukur keberhasilan program.
readmore »»  

Menyoal Ekivalensi UNBK dengan UNKP

Kali ini saya ingin berbagi tulisan saya yang pernah di Publish di Harian Padang Ekspress (Group Jawapos) pada tanggal 28 April 2017. Tulisan ini bertujuan untuk membandingkan ekivalensi Ujian Nasional Berbasis Komputer dengan Ujian Nasional Kertas Pensil. Selamat menikmati dan jangan ragu untuk meninggalkan komentar.
----------------------------------------------------- 
Menyoal Ekivalensi UNBK dengan UNKP
Oleh : Berry Devanda
(Guru SMAN 1 Koto XI Tarusan, Alumni School of Education The University of Adelaide, Australia)
Walaupun ditemui beberapa kendala teknis pada pelaksanaannya, penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) patut diapresiasi. Dari pelaksanaan UNBK SMK (3-6 April) dan SMA (10-14 April) yang telah dilalui, tidak ditemukan kendala-kendala yang berarti. UNBK yang diselenggarakan di sebagian sekolah di Indonesia, mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP) yang diselenggarakan di sekolah lainnya. Namun, apakah kualitas UNBK di beberapa sekolah di seluruh Indonesia itu akan sama dengan UNKP di sekolah lainnya?
Penggunaan moda komputer dalam mengevaluasi hasil belajar siswa mempunyai beberapa kelebihan. UNBK diyakini akan menekan angka kecurangan pada Ujian Nasional karena soal yang diujikan baru dapat dilihat setelah siswa login menggunakan biodatanya. Disisi lain, UNBK memudahkan proses penskoran hasil tes dibandingkan dengan UNKP. UNBK juga lebih menghemat waktu karena tidak perlu mencetak dan mendistribusikan soal ke tempat ujian.
Jumlah peserta UNBK dan UNKP pada tahun 2017 lebih kurang sama. Data yang dirilis pada laman ubk.kemdikbud.go.id menunjukan bahwa 9,829 SMK dan 9,652 SMA/MA telah mengikuti UNBK beberapa minggu yang lalu dan siswa-siswi SMP di 11096 sekolah akan mengikuti UNBK pada tanggal 2 sampai 8 Mei 2017. Mengingat keterbatasan sarana, Kemdikbud tidak mewajibkan sekolah untuk melaksanakan UNBK (Padek, 14/3). Peserta UNBK pada tahun 2017 sekitar 48,93% sedangkan peserta UNKP 51,07% dari total peserta UN 7,7 juta siswa.
Mengingat hasil UN memiliki peran yang cukup penting bagi siswa, maka perlu diperhatikan ekivalensi UNBK dengan UNKP. Perbedaan hasil ujian nasional tersebut akan berpengaruh pada proses seleksi yang masih menggunakan nilai UN sebagai salah satu persyaratan seperti masuk perguruan tinggi, seleksi masuk Polri/TNI dan lain sebagainya. Selain itu, hasil UN yang digunakan sebagai pemetaan kualitas pendidikan bagi pemerintah pusat seharusnya berasal dari dua moda ujian yang ekivalen. Untuk itu, perlu dipertimbangkan kualitas UNBK yang setara dengan ujian yang menggunakan kertas.
Sebuah studi melaporkan bahwa terdapat perbedaan hasil tes siswa ketika diuji menggunakan UNBK dan UNKP. Kveton et. al. (2007) menemukan bahwa dua tes yang sama yang diujikan dengan moda berbasis komputer dan kertas dapat menghasilkan hasil yang berbeda. Perbedaan hasil tes tersebut disebabkan oleh efek bentuk tes (test mode effect). Lebih jauh, perbedaan desain dapat menyebabkan perbedaan pada dua tes berbasis komputer walaupun pada satu topik tes yang sama. Bartram (1994) menyatakan bahwa ekivalensi dua bentuk tes yang berbeda, dalam hal ini UNBK dan UNKP, harus memenuhi beberapa hal sebagai berikut yaitu mempunyai reliabilitas yang identik, mempunyai korelasi satu sama lain pada tingkatan tertentu sesuai dengan realibilitasnya, mempunyai korelasi yang dapat dikomparasi dengan variabel-variabel lain dan mempunyai mean dan standar deviasi yang identik.
Beberapa hal perlu diperhatikan untuk meningkatkan keseteraan kedua moda ujian. Yang pertama adalah rancangan tes berbasis komputer juga perlu mendapat perhatian khusus. Pemindahan soal-soal pada kertas ke komputer mempengaruhi tampilan tes. Perubahan warna latar dan perpaduan warna huruf dengan latar juga berpengaruh signifikan terhadap hasil tes siswa (Kveton et. al. 2007). Lebih jauh Kveton menyimpulkan, walaupun merubah warna latar pada tes nampaknya adalah persoalan sederhana, namun itu berpengaruh pada hasil dan validitas tes. Kveton juga menemukan bahwa tes yang dirancang oleh dua institusi berbeda juga akan terlihat tidak sama.
Selain itu, beberapa aspek pada siswa juga perlu mendapat perhatian. Diantaranya adalah meminimalisir kecemasan mengikuti tes (test anxiety) berbasis komputer. Kecemasan mengikuti sebuah ujian adalah hal yang wajar, namun kecemasan yang berlebihan akan berpengaruh pada hasil tes. Penelitian yang dilakukan oleh Gharib & Phillips (2013) menunjukan bahwa tingkatan kecemasan memiliki peran yang signifikan dalam menentukan hasil tes. Kecemasan tersebut membuat siswa tidak mampu menunjukan kemampuan terbaiknya saat tes. Lebih jauh, kecemasan juga membuat siswa tidak fokus menjawab soal tetapi fokus untuk mengurangi kecemasan saja. Dengan meminimalisir tingkat kecemasan dalam mengikuti ujian berbasis komputer, diharapkan siswa dapat menunjukan kemampuan terbaiknya.
Status ekonomi juga berpengaruh kepada pengalaman berkomputer siswa. Penelitian Bovee et. al. 2007 menemukan bahwa siswa di sekolah pinggiran memiliki akses dan pengalaman komputer yang lebih rendah daripada siswa di sekolah yang memiliki orang tua kelas menengah ke atas. Akses dan pengalaman dalam mengoperasikan komputer ini berpengaruh kepada sikap mereka terhadap komputer. Muaranya, sikap ini berpengaruh pada hasil tes siswa.
Selanjutnya adalah perlunya diperhatikan aspek computer self-efficacy yaitu seberapa percaya diri  seorang siswa melihat dirinya dapat sukses dalam mengerjakan tugas atau tes berbasis komputer. Computer self-efficacy ini berperan signifikan dalam menentukan keberhasilan siswa dalam tes. Hasil studi yang dilakukan oleh Wilfong (2006) menjelaskan bahwa Computer self-efficacy berperan paling signifikan untuk menurunkan tingkat kecemasan siswa dalam mengikuti ujian berbasis komputer. Dengan berkurangnya tingkat kecemasan, siswa dapat lebih fokus untuk mengerjakan soal dan dapat menunjukan kemampuan terbaiknya. Harapannya, hasil ujiannya dapat lebih maksimal.
Usaha untuk memastikan kesetaraan UNBK dapat dimulai dengan kehati-hatian dalam merancang tes berbasis computer. Hal tersebut adalah aspek penting dalam menentukan keseteraan kualitas dengan UNKP. Perhatian khusus perlu diberikan pada hal-hal kecil yang terlihat sederhana seperti kombinasi warna latar soal, warna grafik dan gambar. Keterlibatan pakar evaluasi dan penilaian tes berbasis komputer pada proses rancangan tentu diharapkan sangat membantu menyetarakan kualitas tes.
Disisi lain, salah satu cara untuk mengurangi test anxiety, meningkatkan pengalaman komputer siswa dan kepercayaan dirinya dalam mengikuti ujian berbasis komputer adalah mengoptimalkan masa persiapan. Memberikan waktu kepada siswa untuk terbiasa dengan UNBK adalah penting. Membiasakan siswa dengan memperbanyak uji coba UNBK sebelum hari tes mungkin dapat mengurangi test anxiety. Membiasakan siswa dengan ujian berbasis komputer akan bermanfaat bagi siswa yang kurang mampu secara ekonomi dan tidak memiliki komputer di rumah untuk meningkatkan pengalaman mengoperasikan komputernya. Lebih jauh, pembiasaan terhadap moda ujian ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk dapat berhasil pada UNBK ini sehingga mereka tidak merasakan hambatan yang berarti dibanding siswa lain yang mengikuti UNKP.
readmore »»  

30 Jan 2017

Program Literasi Guru

Teman-teman blogger, berikut saya copy kan tulisan saya tentang Program Literasi Guru yang pernah dimuat pada Harian Padang Ekspress pada tanggal 24 Desember 2016. Berikut tulisan tersebut.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Program Literasi Guru
Oleh : Berry Devanda
Defenisi literasi mengalami perubahan sesuai dengan zaman. Beberapa dekade yang lalu literasi dapat diartikan membaca dan menulis saja. Bormuth (1973, p. 9) berpendapat bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan kemampuan dasar yang berharga bagi setiap manusia. Bourmuth, lebih jauh menjelaskan bahwa dengan kemampuan tersebut manusia bisa berkomunikasi dan menguasai ilmu pengetahuan. Sementara itu, pada saat sekarang literasi diartikan sebagai ‘kemampuan seseorang untuk memahami, mengevaluasi, menggunakan teks tertulis untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, mencapai tujuan, mengembangkan kemampuan dan potensi’ (OECD, 2016, p. 38). Perubahan defenisi terjadi karena kebutuhan manusia yang terus berubah sesuai dengan kondisi zaman. Salah satu contoh adalah beberapa dekade yang lalu seseorang hanya diminta memiliki kemampuan membaca dasar, namun saat ini karena tuntutan pekerjaan, seseorang diminta untuk memiliki kemampuan membaca dan menulis pada tingkat tertentu. Kemampuan literasi yang rendah akan menyulitkan seseorang dalam memahami sebuah petunjuk teknis kegiatan, sebagai contoh, instruksi minum obat dari dokter dan lain sebagainya. Mengingat fungsinya yang penting, maka peningkatan kemampuan literasi akan berdampak positif pada kehidupan seseorang.
OECD pada tahun 2016 merumuskan enam tingkatan kemampuan literasi orang dewasa. Tingkatan paling rendah adalah dibawah 1 dan paling tinggi adalah level 5. Seseorang yang memiliki kemampuan dibawah level 1 hanya dapat memahami teks pendek yang tidak memerlukan pengetahuan struktur kalimat dan paragraf untuk menyelesaikannya. Pada tingkatan tertinggi (level 5), seseorang mampu menggabungkan informasi dari banyak teks dan membuat model logika. Pada tahapan ini, seseorang dapat mengevaluasi realibilitas sebuah teks dan kemudian mengambil kesimpulan level tinggi.
UNESCO pada tahun 2015 melaporkan bahwa 93.9% penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun dilaporkan sudah melek aksara, namun kemampuan literasi masyarakat Indonesia masih dikategorikan rendah. Data terbaru melaporkan bahwa kurang dari 1% orang dewasa (usia 16 sampai 65 tahun) di Jakarta yang memiliki kemampuan literasi tertinggi (Kankaraš, Montt, Paccagnella, Quintini, & Thorn, 2016). Pada level tertinggi ini, orang dewasa mampu untuk mengintegrasi, menginterpretasi dan mensintesa informasi yang panjang dan kompleks. Disisi lain, hampir 70% orang dewasa Jakarta memiliki kemampuan literasi yang rendah yaitu pada level 1 atau lebih rendah (OECD, 2016). Persentase tersebut merupakan nilai terbesar dari 33 negara yang disurvey. Walaupun hasil survey tersebut tidak secara langsung dapat disimpulkan mewakili kondisi Indonesia, temuan di Ibu kota negara tersebut memberikan gambaran tentang diperlukannya usaha untuk meningkatan kemampuan literasi orang dewasa atau angkatan kerja. Mengingat pentingnya kemampuan literasi bagi kesuksesan orang dewasa dan data OECD (2016) tentang rendahnya kemampuan literasi angkatan kerja termasuk guru, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan kemampuan literasi.
Guru membutuhkan kemampuan literasi yang baik untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya yang tertulis dalam pasal 20 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Salah satu contoh adalah kewajiban untuk melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu. Pembelajaran yang bermutu dapat dilaksanakan oleh guru dengan persiapan yang baik, kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, penguasaan pengetahuan ilmu pendidikan. Kemampuan literasi yang baik sebagai salah satu bentuk keahlian, akan membantu guru berinovasi (Wright & Sissons, 2012), sehingga kewajiban guru untuk menghadirkan proses pembelajaran yang bermutu di dalam kelas dapat tercapai. Guru yang memiliki kemampuan literasi yang baik dapat mengumpulkan informasi dengan efektif untuk melaksanakan pembebelajaran yang bermutu. Selain itu, kemampuan literasi guru yang baik diprediksi juga dapat meningkatkan kualitas komunikasi tertulis dengan siswa, contohnya komentar pada hasil kerja siswa dan juga komentar pada rapor siswa.
Kemampuan literasi yang baik juga dibutuhkan guru untuk memenuhi salah satu standar kompetensi yaitu melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Menyusun laporan PTK membutuhkan beberapa keahlian seperti membaca efektif untuk dapat menemukan teori pendukung di dalam Kajian Pustaka. Disisi lain, juga dibutuhkan kemampuan untuk mengelompokan literatur berdasarkan topik yang sedang diteliti. Oleh karena itu, kemampuan literasi menjadi hal sangat penting untuk melakukan kajian pustaka pada penyusunan laporan PTK. Mengingat untuk dapat menemukan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber bacaan merupakan tantangan tersendiri dalam menyusun laporan PTK, maka kemampuan literasi menjadi hal yang sangat penting.
            Disamping kemampuan membaca yang baik, penyusunan laporan PTK juga membutuhkan kemampuan menulis. Kemampuan menulis seperti menghilangkan kata yang tidak perlu dalam kalimat membutuhkan pengalaman menulis dan latihan. Disisi lain, membuat paragraf yang memiliki ide pokok yang jelas juga membutuhkan latihan. Lebih jauh, menghubungkan satu paragraf dengan paragraf sebelum atau sesudahnya juga merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam membuat karya tulis ilmiah seperti laporan PTK.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan sekolah untuk meningkatkan kualitas literasi guru adalah dengan ‘Program Literasi Guru’. Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan juga ditekankan bahwa sekolah mempunyai tugas untuk membantu pengembangan profesionalisme guru. Pada tahap awal, sekolah harus membentuk tim Program Literasi Guru. Tim tersebut dipimpin sendiri oleh kepala sekolah dan beranggotakan perwakilan wakil kepala sekolah, guru dan staf sekolah serta komite sekolah. Jumlah anggota tim disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan sekolah. Tim tersebut bertugas untuk merancang, menjalankan dan mengevaluasi program ini. Lebih jauh, tim ini yang bertanggung jawab untuk menentukan tujuan program, rincian kegiatan, rancangan pendanaan dan evaluasi.
Sebelum memulai merencanakan program lebih jauh, sekolah melalui tim yang sudah dibentuk melakukan identifikasi kemampuan literasi guru-guru. Tahapan ini penting karena dapat mengumpulkan informasi tentang sejauh mana level kemampuan literasi guru. Selain memberikan data tentang kondisi literasi guru, informasi tersebut dijadikan dasar atau acuan dalam menentukan prioritas kegiatan peningkatan kemampuan literasi guru. Analisa awal ini juga akan memberikan informasi tentang tantangan dan hambatan yang akan dihadapi pada upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi guru ini.
Langkah berikutnya adalah merancang bentuk kegiatan sesuai dengan analisis kebutuhan yang sudah dilakukan. Beberapa program dapat dijadikan pilihan untuk meningkatkan kemampuan literasi guru salah satunya adalah pelatihan berkelanjutan. Pelatihan berkelanjutan adalah pelatihan berkesinambungan yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu misalnya satu semester. Dalam rentangan waktu tersebut, setiap minggunya, dipilih satu topik khusus untuk disajikan. Beberapa topik berkaitan dengan kemampuan membaca yang dapat dimasukan kedalam program literasi guru adalah teknik membaca cepat, teknik membaca efektif menjadi pembaca aktif. Selain itu, beberapa topik pelatihan untuk meningkatkan kemampuan menulis guru adalah memahami struktur falam kalimat kompleks, teknik untuk menghilangkan kata-kata yang tidak perlu dalam kalimat, membuat kalimat kompleks dan menulis paragraf yang ideal. Pelatihan tersebut juga dapat dikombinasikan dengan program sekolah lainnya seperti pelatihan penulisan laporan PTK.
Salah satu tantangan dari pelatihan ini adalah menghadirkan instruktur atau tutor, namun permasalahan ini dapat diselesaikan melalui beberapa cara. Instruktur pelatihan dapat diminta dari dua kelompok. Kelompok pertama didatangkan dari perguruan tinggi terdekat sedangkan kelompok kedua dapat dimanfaatkan guru-guru dari kelompok mata pelajaran Bahasa seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Guru-guru tersebut juga dapat didatangkan dari sekolah lainya dengan memanfaatkan peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Topik-topik yang dibahas dalam satu semester didistribusikan kepada kedua pihak untuk dipilih dengan mempertimbangkan faktor keilmuan, biaya dan waktu.
Metoda pelatihan harus mengedepankan unsur kolaborasi. Pembelajaran kolaboratif mempunyai banyak manfaat baik secara akademik maupun sosial. Manfaat pembelajaran kolaboratif secara akademik diantaranya adalah meningkatkan kemampuan berprikir kritis dan mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif (Laal & Ghodsi, 2012, p. 487). Lebih jauh, Laal and Ghodsi (2012) menjelaskan bahwa secara sosial, salah satu manfaat pembelajaran kolaboratif adalah menciptakan komunitas pembelajar. Untuk membuat pelatihan lebih kontekstual, bahan ajar yang digunakan hendaknya berhubungan langsung dengan tugas guru seperti analisa Permendikbud tentang dengan standard penilaian. Analisa tersebut dapat langsung dituangkan sebagai salah satu kajian pustaka pada penulisan laporan PTK.
Waktu pelaksanaan setiap minggu yang efektif adalah satu jam oleh karena itu topik yang disajikan dalam pelatihan haruslah spesifik. Massachusetts Institute of Technology menyarankan mahasiswanya untuk membagi waktu belajarnya kedalam beberapa bagian. Durasi waktu belajar yang efektif adalah satu jam. Lebih jauh, belajar yang paling efektif adalah dalam satu jam dengan rincian 50 menit belajar dan 10 menit jeda. Jika program pelatihan peningkatan literasi guru ini dirancang dengan baik, maka penggunaan waktu satu jam dalam tiap sesi latihan adalah yang paling efektif.
Ada beberapa sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan kegiatan ini. Sumber dana pertama adalah dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Menurut standar pengelolaan dana BOS Sekolah Menengah Atas (SMA), salah satu komponen pembiayaannya adalah peningkatan mutu guru. Salah satu poin pada standar itu disebutkan bahwa Dana BOS dapat digunakan untuk mengadakan ‘In House Training (IHT)/workshop/lokakarya untuk peningkatan mutu’. Pembiayaan tersebut diantaranya dapat meliputi (poin D) biaya fotokopi, konsumsi dan jasa profesi bagi narasumber.
            Sumber pendanaan kedua bisa didapatkan dari swadaya guru sendiri. Mengingat program ini bermanfaat untuk meningkatkan profesionalisme, guru dapat diminta untuk berpartisipasi dalam bentuk membawa sendiri makan siang mereka. Para guru juga dapat berpartisipasi dalam bentuk mengganti biaya fotokopi bahan pelatihan. Disamping itu, sumber pendanaan ketiga juga dapat diperoleh dari pihak ketiga seperti pemerintah daerah dan lembaga-lembaga lainnya. 

Efektifitas peran sekolah dalam meningkatkan kemampuan literasi guru melalui Program Literasi Guru ini dapat diketahui dengan evaluasi yang baik. Rencana evaluasi ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan program ini sudah tercapai. Disisi lain, evaluasi program ini juga dapat memberikan informasi spesifik tentang kualitas bahan ajar yang digunakan selama pelatihan dan juga instruktur, tepat atau tidaknya metoda latihan yang digunakan, efektifnya durasi waktu latihan dan teknologi yang digunakan. Lebih jauh, evaluasi ini juga memberikan gambaran tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas program ini dimasa yang akan datang.
readmore »»  

2 Apr 2016

10 Mobile Applications for Education

10 Mobile applications for education are discussed below. Some of them can be run in both Android and iOS while others particularly in one operating system only. Basically, all of them are free apps and can be used in K12 and college. The applications can be used as assessment, presentation, collaboration, organization and tools for helping learning to be more engaging. Those tools promote various level of cognitive abilities based on Revised Bloom Taxonomy which are remember, understand, apply, analyse, evaluate and create (Krathwohl 2002).

1. Socrative
https://b.socrative.com/login/student/
This mobile app is free and can be run on Apple and Android system. It is mainly developed as an assessment tool. Teachers can develop quizzes and collect the result in real time. Various types of questions are offered by this tool i.e. multiple choice, short answer and true-false questions. As the quizzes are ready to deliver, teachers will get a unique number to be sent to their students so that they are able to log in and then access the test. I personally will use this app to do formative assessment of my students’ ability. On the other hand, It allows student to have different levels of cognitive abilities such as remember, understanding, apply and analyse, evaluate and create which depends on what the assessment intend to measure.

2. Molecules
https://itunes.apple.com/us/app/molecules
It is a free iOS-based application. It offers 3D model of various protein, DNA and microorganism. As those are abstract, this application brings the real picture which make learning more contextual. Interestingly, students are able to zoom in and out, spin the model which can engage them to the learning. This tool is very helpful to contextualize the lesson. Additionally, we can also add new model to the application. It offers various cognitive level such as remember and understanding as students see the models. It also allows students to create their own model which is application level of their knowledge. It also helps teacher to easily visualize the model.

3. Evernote
https://play.google.com/store/apps
Basically Evernote is free and can be run in many system operations such as android and iOS. This tool helps teachers and students to organize their work. Teachers are able to put all learning resources in this application. additionally, it also allows them to put meeting notes, parent contact logs, teaching schedule and lesson plans. On the other hand, students are able to organize their work using this app such as notebook, attachment and other resources. Even though it not necessarily promotes cognitive abilities of the students, it helps students to have affective domain ability which is characterization. This affective level consists how students are able to manage, resolve, revise their-self which can be linked indirectly to learning outcomes (Boyle et al. 2007)



4. Edmodo
https://api.edmodo.com/login
Edmodo is free academic social media platform which offers interaction between teachers and student and also student and student. It looks like Facebook, one of the most social media in the world and can be run in iOS and Android based system. It allows online student-teacher interaction. Interestingly, Edmodo allows student to know their grade just like Blackboard system. Moreover, Parents are also able to monitor their children’ progress. Even though I have experience using Facebook, I will use Edmodo to interact with my students and manage my lesson. This app allows students to work collaboratively and discuss particular topic related to their lesson, task, homework or assignment. As they discuss a topic, for example, they are developing ‘analyse’ level of their cognitive ability.


5. YouTube
www.youtube.com
YouTube is one of the famous website which is free and can be run in all system. It offers many videos which can be used as learning resources. Personally, I love to use YouTube in classroom in explaining theory in physics which is needed to be visualized for example Einstein’s Relativity Theory. It helps to make the lesson easier. Apart from bad internet connection in my school, this tool improves the quality of learning in my class. YouTube allows students to develop all levels of cognitive abilities. For example, students are able to ‘create’ (the highest level of thinking) their own video related to particular topics.


6. Blog
https://www.blogger.com/
This tool is free and can be run all types of operating system. Blogs can be used to apply and analyse what students have learned in the classes. For example, students can post their analysis on particular topic in form of essay or report. Moreover, this tool can also be utilized as a medium to post their evaluation on another topic. This tool also allows students to put comment on their peers’ post which also promotes collaborative learning. I personally use blog as medium to announce important topics by restricting the access so that only my students can view the contents. Other teachers could use blog to work collaboratively with their students.




7. Oxford Dictionary of English
https://play.google.com/store/apps
This is a free application and can be run in many operating systems such as android and iOS. This mobile dictionary offers more than 350,000 words, phrases and meanings. Students can replace their printed dictionary to this app. This app also promotes Bring Your Own Devices (BYOD) which allows students to experience wide range tools to improve the quality learning process in the class. I personally will use this app in teaching English or to understand certain definitions in physics. This tool helps students to have some level of cognitive abilities such as remember, understand and apply some words into sentences in English.





8. FX Calculus Problem Solver
https://play.google.com/store/apps
This application is android-based and free. It offers wide range of math problems that can be used by students at senior high school and college. This tool can replace scientific calculator which is more likely expensive. Teachers can ask their students to bring their own devices to the class and access this application to solve math problems such matrix, differentiation, integration, limit and graphing. I personally will use this app to show my students how to get a formula of particular topic such as velocity acceleration which require integration and differentiation. This app promotes some level of cognitive abilities such as remember, understand, apply and analyse.





9. Atlas 2016
https://play.google.com/store/apps
This is a free android-based application. It provides offline maps which consist political world map, map of North America, Europe and World Time Zone. This tool not only can be used in Geography lesson but also in History, Sociology and other lessons. Students do not have to bring their printed atlas to the class which saves space. Teachers might use this app in the class to locate areas when teaching history or geography. This app can also be used to trigger discussion on particular topic which promotes some level of cognitive abilities such as remember, understand, apply and analyse.  






10. Prezi
https://prezi.com/
Prezi is web-based presentation and basically free. It can be run on many operating systems. Even though it is much easier to create a presentation in full website, the mobile version allows students and teachers to practice presentation they made. This app offers interactive presentation by zoom in and out mode which makes it different from other softwares. I personally will create presentations in full website and use my mobile phone to practice and present in the class by connecting it to projector or TV using HDMI cable. Students can also do the same. When using to create presentation on particular topic, this app promotes students’ cognitive abilities such as apply, analyse, evaluate and create.



References

Boyle, A, Maguire, S, Martin, A, Milsom, C, Nash, R, Rawlinson, S, Turner, A, Wurthmann, S & Conchie, S 2007, 'Fieldwork is Good: the Student Perception and the Affective Domain', Journal of Geography in Higher Education, vol. 31, no. 2, 2007/05/01, pp. 299-317.

Krathwohl, DR 2002, 'A revision of Bloom's taxonomy: An overview', Theory Into Practice, vol. 41, no. 4, pp. 212-218.


readmore »»