1 Des 2019

Tips Memilih Jurusan SNMPTN

Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah kesempatan bagi siswa-siswi SMA/sederajat untuk menggapai cita-cita masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan. Proses seleksi pada SNMPTN menggunakan nilai rapor semester satu sampai lima untuk SLTA yang berdurasi selama tiga tahun dan nilai rapor satu sampai tujuh untuk SLTA yang berdurasi empat tahun. Selain nilai rapor, prestasi-prestasi lain yang relevan baik akademik maupun non akademik, menjadi pertimbangan penting dalam kelulusan seseorang pada SNMPTN.

Pada SNMPTN 2020, pendaftar dapat memilih dua program studi dalam satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau pada dua PTN. Berdasarkan pengalaman membantu sekolah mempersiapkan SNMPTN selama bertahun-tahun, berikut kami sampaikan Tips memilih jurusan SNMPTN yang mungkin bisa dijadikan salah satu referensi bagi pendaftar :

1. Lakukan riset terhadap jurusan pilihanmu
Walaupun banyak orang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, namun pilihan program studi kamu pada saat kuliah sedikit banyak akan menentukan jalan hidup mu nantinya. Maka dari itu, pastikan pilihan program studi mu dengan cara mencari informasi sebanyak-banyak nya tentang apa saja nanti yang dipelajari saat kuliah?, Bagaimana suasana perkuliahannya? Dan yang tidak kalah penting, seperti apa nanti kemungkinan pekerjaan yang akan kalian geluti setelah menyelesaikan kuliah.
Lebih jauh, kamu perlu mencari informasi tentang penerimaan program studi tersebut pada jalur SNMPTN. Website SNMPTN menyediakan data jumlah daya tampung, jumlah pendaftar tahun lalu dan informasi penting lainnya. Jadikan data tersebut sebagai pertimbanganmu dalam memilih jurusan.

2. Sesuaikan minat dengan kemampuanmu
Setelah belajar selama beberapa tahun, kalian pasti sudah mempunyai gambaran tentang apa yang kalian suka.  Pada saat yang sama, kalian juga pasti dapat mengukur sejauh mana kemampuan akademik. Oleh karena itu, pastikan kalian realistis dalam memilih program studi pada SNMPTN.  Jangan sampai, kalian memilih program studi yang tidak sesuai dengan kemampuanmu.

________________________________
Baca juga :
_______________________________

3. Urutan Program Studi
Tempatkan program studi yang paling kalian inginkan pada pilihan pertama dan prioritas berikutnya pada pilihan kedua. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan tahapan seleksi SNMPTN yakni panitia terlebih dahulu akan menyeleksi pendaftar berdasarkan pilihan pertamanya. Jika tidak lulus pada pilihan pertama, baru akan diseleksi pada pilihan keduanya sesuai dengan pilihan daya tampung.

4. Kenali Kompetitor mu
Cari informasi sebanyak-banyaknya siapa saja teman-teman di sekolah kalian yang mengambil program studi yang sama. Jangan sampai program studi yang sama pada satu perguruan tinggi dipilih oleh banyak pendaftar di sekolah kalian. Hal ini akan memperbesar peluang untuk tidak lulus, apalagi jika nilai rapor kalian lebih rendah dari teman-teman tersebut. Apalagi jika untuk program studi favorit.

5. Pikirkan PTN lain
Jika memang banyak teman-teman di sekolah kalian yang memilih program studi yang sama dan nilai kalian dibawah nilai mereka, coba kalian pikirkan untuk mengambil program studi yang sama tapi pada perguruan tinggi berbeda. Mengingat kualitas transportasi negara kita yang semakin baik, tidak salah jika kalian mencoba PTN yang tidak berada di provinsi mu. Disamping itu, merantau akan memberikan pengalaman hidup yang berguna bagi kalian nantinya.

6. Pertimbangkan Posisi Sekolah mu
Pada SNMPTN 2020 ini, sekolah terakreditasi A dapat mendaftarkan 40% siswa nya, Akreditasi B 25% dan akreditasi C 5 %. Angka ini lebih sedikit dari tahun sebelumnya dimana sekolah Akreditasi A boleh mendaftarkan 50% terbaik siswanya. Meskipun nanti dinyatakan berhak untuk mendaftar SNMPTN, kalian harus mempertimbangkan posisi sekolah kalian karena Sekolah X yang berakreditasi A bisa tidak sama kualitasnya dengan Sekolah Y yang juga terakreditasi A. Pertimbangan lainnya bisa saja Sekolah X telah punya nama baik dari segi prestasi akademik maupun non akademik selama ini dibandingkan sekolah Y yang mungkin sama sama terakreditasi A. Jika sekolah kalian telah memiliki rekam jejak meluluskan siswa pada PTN terbaik, jangan ragu memilih program studi disana. Namun, jika tidak, kalian harus memilih program studi lain di PTN yang mungkin  lebih memiliki grade lebih rendah.

________________________________
Baca juga :
_______________________________

readmore »»  

17 Nov 2019

Tanggal Penting SNMPTN 2020

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merilis jadwal pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2020. Pada rilis tersebut terdapat beberapa perbedaan dengan tahun 2019. Diantaranya adalah ada keharusan untuk mendaftar pada Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Setiap peserta baik SNMPTN, UTBK dan SBMPTN wajib membuat akun di situs LTMPT.

Berikut jadwal penting SNMPTN 2020 :


Berikut daftar jadwal penting SNMPTN 2020 :
Demikian 
x

1. Registrasi Akun LTMPT : 2 Desember 2019 - 07 Januari 2020.

2. Pengisian PDSS: 13 Januari - 06 Februari 2020. Biasanya, tahapan ini dilakukan oleh pihak sekolah. Berdasarkan pengalaman dari tahun sebelumnya, setelah pihak sekolah menginput data dan nilai semester 1-5, setiap siswa diminta untuk memverifikasi data dan nilai tersebut.

3. Pemeringkatan Siswa oleh Sekolah: 13 Januari - 06 Februari 2020. Proses ini cukup lama jika memakan waktu lebih kurang 3 minggu.

4. Pengumuman Siswa yang dinyatakan layak untuk  mendaftar SNMPTN: 13 Januari - 06 Februari 2020.

5. Pendaftaran SNMPTN: 11 - 25 Februari 2020. Pada tahapan ini, siswa diminta untuk mendaftar sesuai dengan pedoman SNMPTN yang nanti akan disediakan oleh panitia SNMPTN 2020.

6. Pengumuman Hasil SNMPTN 2020: 04 April 2020 pukul 15.00 WIB.

Demikian jadwal penting SNMPTN 2020

________________________________
Baca juga :
Tanggal Penting SNMPTN 2020
Tips Memilih Jurusan SNMPTN
Mewujudkan Sekolah Aman Bencana
Sekolah dan Pendidikan Remaja
Pagi ke Empat di Adelaide
Semalam di Hogan, Rumah Tradisional Indian
_______________________________

readmore »»  

16 Nov 2019

Mewujudkan Sekolah Aman Bencana

Teman Teman sekalian, pada kesempatan ini saya ingin membagikan tulisan saya yang dimuat pada Harian Padang Ekspress (Group Jawa Pos) pada tanggal 2 Maret 2019. Selamat membaca 

Mewujudkan Sekolah Aman Bencana
Oleh : Berry Devanda (Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Koto XI Tarusan, Alumni School of Education The University of Adelaide, Australia)

Gempa bumi kembali mengguncang Sumatera Barat. Gempa yang terjadi di Solok Selatan yang kemudian disusul dengan Gempa Pasaman pada tanggal 28 Februari 2019 ini menimbulkan beberapa kerusakan. Informasi kerusakan telah dirilis oleh beberapa akun berita di sosial media seperti akun @infosumbar di Instagram yang mengutip data dari BPBD Solok Selatan, mengabarkan bahwa terdapat satu sekolah MIN yang mengalami kerusakan. Sebelumnya, gempa yang terjadi beberapa minggu lalu di kepulauan Mentawai juga menimbulkan dampak yaitu rusaknya SDN 02 Silaoinan, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap, Mentawai (Padeks, 6/2/2019). Kejadian ini mengingatkan kembali bahwa Indonesia, khususnya Sumatera Barat dihadapkan pada ancaman beberapa macam bencana mulai dari banjir, kebakaran hutan, gempa, tsunami dan lainnya. Ancaman bencana tersebut juga dapat merusak fasilitas pendidikan. Selain itu, jika bencana terjadi ketika Proses Belajar Mengajar (PBM) sedang berlangsung, maka siswa, guru dan tenaga kependidikan juga akan menjadi korban. Oleh karena itu, perlu usaha untuk mengurangi resiko bencana dan mewujudkan sekolah yang aman dari bencana.
Sebagian besar gedung sekolah di Indonesia berada pada wilayah dengan potensi bencana. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan World Bankmenunjukan bahwa lebih kurang 75% sekolah-sekolah di Indonesia berada pada daerah rawan bencana. Secara lebih spesifik, BNPB juga merilis List Desa Kelas Bahaya Sedang dan Tinggi Tsunami. Terdapat lebih kurang 135 nagari di Sumatera Barat yang dikategorikan sebagai desa dengan tingkat bahaya tinggi ketika tsunami terjadi. Data ini menunjukan bahwa sekolah-sekolah yang berada pada desa tersebut perlu menciptakan kesadaran akan bencana sehingga kerusakan yang akan terjadi dapat dikurangi.
Kerusakan sarana dan prasarana pendidikan akibat bencana di Indonesia tidak sedikit jumlahnya. Dalam kurun waktu tahun 2004 sampai 2014 saja, BNPB merilis terdapat 82,892 ruang kelas sekolah tingkat menengah yang rusak ringan, 42,428 ruang kelas rusak berat. Sedangkan untuk sekolah dasar, masih pada kurun waktu tersebut, terdapat 182, 500 ruang rusak ringan dan 110,598 ruang rusak berat.
Besarnya potensi bencana tidak hanya berdampak pada asset berupa gedung serta sarana dan prasarana pendidikan lainnya namun juga pada peserta didik dan guru. Pada kenyataannya, guru dan anak-anak usia sekolah adalah asset berharga bangsa ini. Ditangan siswalah nantinya tongkat estafet kelangsungan bangsa ini akan diserahkan. Dalam Roadmap Sekolah/Madrasah Aman yang diterbitkan oleh Kemdikbud, lebih kurang 40 juta siswa di seluruh Indonesia rentan terhadap gempa bumi. Untuk itu, perlu usaha untuk mengurangi korban jiwa terutama anak-anak usia sekolah.
Salah satu usaha untuk mengurangi resiko bencana adalah dengan menerapkan sekolah aman bencana. UNESCO telah membuat tiga pilar sekolah aman yaitu Safe Learning FacilitiesSchool Disaster ManagementRisk Reduction and resilience education. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga sudah mengeluarkan Roadmap Sekolah/Madrasah Aman yang mengacu kepada tiga pilar yang dikeluarkan UNESCO tersebut. Ketiga Pilar tersebut diyakini mencakup semua usaha untuk mewujudkan sekolah yang aman.
Untuk memenuhi pilar yang pertama, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah diantaranya melakukan evaluasi terhadap seluruh gedung sekolah di Indonesia. Evaluasi tersebut bertujuan untuk menyediakan data kelayakan semua gedung-gedung sekolah. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran gedung sekolah mana yang ramah gempa dan yang tidak. Bagi gedung sekolah yang tidak ramah gempa harus dilakukan perbaikan. Disisi lain, pembangunan ruang kelas baru yang diprogramkan pemerintah harus menjadikan struktur gedung ramah gempa sebagai syarat utama dalam memberikan bantuan gedung baru. Syarat utama ini harus diawasi keterlaksanaannya mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan gedung baru. 
__________________________________
Baca Juga :
__________________________________

Pilar kedua fokus kepada manajemen bencana di sekolah. Sekolah wajib melakukan analisa tentang apa saja potensi bencana yang mungkin dapat dialami. Setelah mendapatkan data tersebut, sekolah harus merancang prosedur operasional standar (POS) mitigasi bencana. POS tersebut hendaknya memuat hal-hal yang berkaitan dengan usaha mengurangi resiko bencana dan apa saja yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan, Siswa. Lebih jauh, sekolah berkewajiban mensosialisasikan POS tersebut kepada seluruh warga sekolah dan juga masyarakat sekitar. Sekolah juga diharapkan dapat melakukan latihan mitigasi kebencanaan nasional yang sudah ditetapkan setiap tahun pada tanggal 26 April. Latihan tersebut diharapkan dapat berjalan minimal satu kali setahun untuk memberikan gambaran kepada seluruh warga sekolah tentang proses evakuasi jika bencana terjadi.
Pilar ketiga dari sekolah aman bencana fokus kepada pendidikan kebencanaan dan usaha-usaha pengurangan resiko bencana. Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memenuhi pilar ini. Langkah awal dan sangat penting adalah dengan membangun kesadaran publik tentang bahaya bencana. Seluruh warga sekolah harus sadar dan mengetahui apa saja bentuk bentuk bencana yang dapat menimpa terutama ketika mereka sedang berada di lingkungan sekolah. Lebih jauh, mereka juga harus sadar dan mengetahui apa yang dilakukan ketika bencana tersebut sedang berlangsung. Pengetahuan tentang hal-hal tersebut wajib diketahui terutama oleh guru. Karena jika proses belajar mengajar (PBM) sedang berlangsung, maka gurulah yang akan memimpin proses evakuasi, mengarahkan siswa ke titik kumpul yang telah ditentukan. Kesadaran akan bencana dan bahaya apa saja yang dapat menimpa sekolah dapat dimunculkan dengan melakukan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah melalui amanat upacara bendera, kegiatan kultum jumat, integrasi materi kebencanaan pada mata pelajaran dan lain sebagainya.
Pengurangan resiko bencana juga dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan pertolongan pertama. Pelatihan ini penting untuk membekali setiap siswa dan warga sekolah agar mempunyai pengetahuan tentang pertolongan pertama jika bencana terjadi. Selain berguna untuk diri siswa, diharapkan pengetahuan yang mereka punya dapat digunakan untuk menolong orang lain ketika bencana terjadi. Metoda pelatihan ini dapat berupa kombinasi daring dan tatap muka. Materi-materi penting pada pelatihan ini dapat disampaikan dengan metoda daring melalui aplikasi yang dibangun secara terpusat oleh pemerintah atau menggunakan aplikasi yang sudah tersedia online. Sedangkan metoda tatap muka diperuntukan untuk praktek pertolongan pertama. Untuk memastikan pelaksanaannya, kegiatan training ini hendaknya diambil oleh setiap siswa minimal satu kali selama periode sekolahnya.
Mewujudkan sekolah yang aman bencana membutuhkan usaha yang menyeluruh dari banyak pihak. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan harus memastikan Roadmap Sekolah/Madrasah Aman yang sudah dirancang dengan baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 tersebut dapat dijalankan dengan baik oleh setiap sekolah. Dengan menjalankan ketiga pilar sekolah aman bencana tersebut, diharapkan banyak fasilitas pendidikan serta nyawa siswa dan guru yang dapat diselamatkan. 

readmore »»  

23 Jul 2017

Sekolah dan Pendidikan Remaja

Teman-teman, saya ingin membagi pandangan saya tentang peran apa yang bisa dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak remaja kita. Pandangan ini dimuat di Harian Padang Ekspress (Group Jawapos) pada tanggal 14 Juli 2017. Silahkan dikomentari.

Sekolah dan Pendidikan Remaja
Oleh : Berry Devanda
Guru SMAN 1 Koto XI Tarusan dan
Alumni School of Education The University of Adelaide, Australia

Kasus pencabulan yang dilakukan oleh empat orang siswa pada salah satu sekolah di Kecamatan Bayang, Kabupaten pesisir selatan (Padek, 13/7) adalah fakta persoalan remaja yang membuat banyak masyarakat prihatin. Kasus pencabulan yang dilakukan oleh anak remaja di daerah lain juga banyak diberitakan oleh media massa. Persoalan ini perlu mendapat perhatian banyak pihak. Pola pengasuhan remaja juga perlu didiskusikan kembali. Apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi persoalan remaja tersebut? Sebagai tempat remaja menghabiskan sebagian besar waktunya setiap hari,  solusi apa yang dapat ditawarkan oleh sekolah?
Banyak faktor yang menyebabkan seorang remaja melakukan perbuatan menyimpang seperti pelecehan seksual. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan orang tua dalam mengasuh (parenting skills) anak remaja. Sebagian orang mungkin hanya meniru apa yang telah dilakukan orang tua mereka dulu dan menerapkannya pada anak-anak remaja mereka. Sebagian lain mungkin saja mendapatkan pengetahuan dari sumber lain seperti teman, internet, media massa dan lainnya. Disaat yang sama, sebagian orang tua mungkin saja perlu perjuangan yang besar untuk dapat membangun komunikasi yang baik dengan anak remajanya. Disisi lain, anak remaja mungkin saja merasa tidak memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang tuanya sehingga merasa tidak nyaman untuk menceritakan hal-hal yang bersifat sensitif.
Anak remaja memiliki beberapa karakteristik. World Health Organization (WHO) mendefinisikan anak remaja dari usia 10 sampai 19 tahun. Pada rentang usia tersebut, terjadi perubahan besar dalam hidup anak remaja baik dari segi fisik maupun mental. Remaja tidak lagi memerlukan perlakuan seperti anak-anak pada umumnya namun juga belum mampu untuk mengemban tanggung jawab sebagai orang dewasa (Robinson, 2006). WHO juga menjelaskan bahwa pada masa remaja tidak hanya terjadi perubahan besar berupa pendewasaan fisik dan mental tapi mereka juga menghadapi beberapa resiko. Masalah yang dihadapi anak remaja saat ini adalah penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seks dini, perilaku menyimpang dan lainnya.
__________________________________
Baca Juga :
__________________________________
Persoalan remaja tersebut dapat dikurangi salah satunya dengan cara meningkatkan ikatan antara orang tua dan anak remajanya. Ikatan yang kuat dapat menghindarkan anak remaja dari prilaku yang merusak dirinya maupun orang lain. Namun, sebagian orang tua tidak memiliki kecakapan yang baik dalam mengasuh anak remaja. Untuk itu perlu usaha untuk meningkatkan kemampuan mengasuh orang tua.
Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan mengasuh anak remaja adalah melalui program pelatihan keterampilan terpadu mengasuh anak remaja (Thomas, B et al 2013). WHO (2007) menjelaskan bahwa kegiatan peningkatan kemampuan orang tua tentang remaja berbasis sekolah ini memiliki beberapa tujuan yaitu meningkatnya pengetahuan orang tua dan kemampuan komunikasinya, meningkatnya pengetahuan tentang dunia remaja, meningkatkan hubungan orang tua dengan sekolah dan meningkatkan hubungan sesama orang tua siswa.
Program pelatihan ini dapat diselenggarakan di sekolah. Kegiatan pelatihan terpadu ini dapat berupa kelas orang tua seperti yang dirancang oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Kelas orang tua yang dimaksud pada kasus ini dapat diartikan sebagai sebuah wadah khusus yang disediakan sekolah bagi orang tua yang memiliki anak-anak remaja. Tujuan kelas ini adalah untuk meningkatkan kepekaan orang tua terhadap masalah yang dihadapi oleh anak remajanya. Selain itu, kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas orang tua dalam memecahkan masalah anak remajanya di rumah. Selain itu, program ini juga untuk meningkatkan kemampuan orang tua untuk dapat membangun komunikasi dengan anak remajanya untuk mendiskusikan hal-hal sensitif seperti masalah seksual dan lain sebagainya.
Kegiatan program pelatihan ini berupa kelas orang tua yang diselenggarakan sekolah ini dapat dilakukan secara terstruktur. Pada kelas tersebut, disajikan ragam materi yang mencakup aspek dengan mengundang psikolog, tenaga kesehatan, kepolisian dan dari pihak sekolah sendiri. Waktu pelaksanaan dapat dirancang satu kali setiap semester dengan durasi waktu yang cukup. Sekolah diharapkan dapat memasukan program ini ke dalam program tahunan dengan menggunakan sumber pendanaan yang memungkinan.
Porsi interaksi yang besar antara anak remaja dengan orang tua dan guru merupakan aspek potensial untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anak remaja. Disisi lain, tidak semua kebutuhan pendidikan anak remaja dapat terpenuhi oleh pihak sekolah. Untuk itu penguatan peran orang tua dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak remaja adalah sebuah peluang yang dapat dimanfaatkan.
Program ini perlu didukung dengan meningkatkan sumber daya sekolah dalam hal pola asuh anak remaja. Pembentukan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga pada pemerintahan Presiden Joko Widodo perlu diapresiasi. Dimasukannya pendidikan keluarga kedalam organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang berada dibawah Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat adalah langkah maju. Kebijakan ini juga dapat diartikan sebagai usaha pemerintah untuk melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi peningkatan kualitas anak bangsa terutama anak-anak remaja. Langkah ini juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap unsur penting dalam pendidikan yaitu keluarga.
 Untuk itu, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dapat membekali sekolah untuk training of trainer kegiatan pelatihan tersebut. Diakhir training tersebut peserta diharapkan mampu mengelola kegiatan pelatihan di sekolah masing-masing. Disamping itu, perlu disediakan dokumen panduan pendidikan remaja berbasis sekolah oleh pemerintah. Panduan tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kurikulum, modul pelatihan dan bentuk evaluasi yang akan dilakukan untuk mengukur keberhasilan program.
__________________________________
Baca Juga :

__________________________________
readmore »»  

Menyoal Ekivalensi UNBK dengan UNKP

Kali ini saya ingin berbagi tulisan saya yang pernah di Publish di Harian Padang Ekspress (Group Jawapos) pada tanggal 28 April 2017. Tulisan ini bertujuan untuk membandingkan ekivalensi Ujian Nasional Berbasis Komputer dengan Ujian Nasional Kertas Pensil. Selamat menikmati dan jangan ragu untuk meninggalkan komentar.
----------------------------------------------------- 
Menyoal Ekivalensi UNBK dengan UNKP
Oleh : Berry Devanda
(Guru SMAN 1 Koto XI Tarusan, Alumni School of Education The University of Adelaide, Australia)
Walaupun ditemui beberapa kendala teknis pada pelaksanaannya, penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) patut diapresiasi. Dari pelaksanaan UNBK SMK (3-6 April) dan SMA (10-14 April) yang telah dilalui, tidak ditemukan kendala-kendala yang berarti. UNBK yang diselenggarakan di sebagian sekolah di Indonesia, mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP) yang diselenggarakan di sekolah lainnya. Namun, apakah kualitas UNBK di beberapa sekolah di seluruh Indonesia itu akan sama dengan UNKP di sekolah lainnya?
Penggunaan moda komputer dalam mengevaluasi hasil belajar siswa mempunyai beberapa kelebihan. UNBK diyakini akan menekan angka kecurangan pada Ujian Nasional karena soal yang diujikan baru dapat dilihat setelah siswa login menggunakan biodatanya. Disisi lain, UNBK memudahkan proses penskoran hasil tes dibandingkan dengan UNKP. UNBK juga lebih menghemat waktu karena tidak perlu mencetak dan mendistribusikan soal ke tempat ujian.
Jumlah peserta UNBK dan UNKP pada tahun 2017 lebih kurang sama. Data yang dirilis pada laman ubk.kemdikbud.go.id menunjukan bahwa 9,829 SMK dan 9,652 SMA/MA telah mengikuti UNBK beberapa minggu yang lalu dan siswa-siswi SMP di 11096 sekolah akan mengikuti UNBK pada tanggal 2 sampai 8 Mei 2017. Mengingat keterbatasan sarana, Kemdikbud tidak mewajibkan sekolah untuk melaksanakan UNBK (Padek, 14/3). Peserta UNBK pada tahun 2017 sekitar 48,93% sedangkan peserta UNKP 51,07% dari total peserta UN 7,7 juta siswa.
Mengingat hasil UN memiliki peran yang cukup penting bagi siswa, maka perlu diperhatikan ekivalensi UNBK dengan UNKP. Perbedaan hasil ujian nasional tersebut akan berpengaruh pada proses seleksi yang masih menggunakan nilai UN sebagai salah satu persyaratan seperti masuk perguruan tinggi, seleksi masuk Polri/TNI dan lain sebagainya. Selain itu, hasil UN yang digunakan sebagai pemetaan kualitas pendidikan bagi pemerintah pusat seharusnya berasal dari dua moda ujian yang ekivalen. Untuk itu, perlu dipertimbangkan kualitas UNBK yang setara dengan ujian yang menggunakan kertas.
Sebuah studi melaporkan bahwa terdapat perbedaan hasil tes siswa ketika diuji menggunakan UNBK dan UNKP. Kveton et. al. (2007) menemukan bahwa dua tes yang sama yang diujikan dengan moda berbasis komputer dan kertas dapat menghasilkan hasil yang berbeda. Perbedaan hasil tes tersebut disebabkan oleh efek bentuk tes (test mode effect). Lebih jauh, perbedaan desain dapat menyebabkan perbedaan pada dua tes berbasis komputer walaupun pada satu topik tes yang sama. Bartram (1994) menyatakan bahwa ekivalensi dua bentuk tes yang berbeda, dalam hal ini UNBK dan UNKP, harus memenuhi beberapa hal sebagai berikut yaitu mempunyai reliabilitas yang identik, mempunyai korelasi satu sama lain pada tingkatan tertentu sesuai dengan realibilitasnya, mempunyai korelasi yang dapat dikomparasi dengan variabel-variabel lain dan mempunyai mean dan standar deviasi yang identik.
Beberapa hal perlu diperhatikan untuk meningkatkan keseteraan kedua moda ujian. Yang pertama adalah rancangan tes berbasis komputer juga perlu mendapat perhatian khusus. Pemindahan soal-soal pada kertas ke komputer mempengaruhi tampilan tes. Perubahan warna latar dan perpaduan warna huruf dengan latar juga berpengaruh signifikan terhadap hasil tes siswa (Kveton et. al. 2007). Lebih jauh Kveton menyimpulkan, walaupun merubah warna latar pada tes nampaknya adalah persoalan sederhana, namun itu berpengaruh pada hasil dan validitas tes. Kveton juga menemukan bahwa tes yang dirancang oleh dua institusi berbeda juga akan terlihat tidak sama.
Selain itu, beberapa aspek pada siswa juga perlu mendapat perhatian. Diantaranya adalah meminimalisir kecemasan mengikuti tes (test anxiety) berbasis komputer. Kecemasan mengikuti sebuah ujian adalah hal yang wajar, namun kecemasan yang berlebihan akan berpengaruh pada hasil tes. Penelitian yang dilakukan oleh Gharib & Phillips (2013) menunjukan bahwa tingkatan kecemasan memiliki peran yang signifikan dalam menentukan hasil tes. Kecemasan tersebut membuat siswa tidak mampu menunjukan kemampuan terbaiknya saat tes. Lebih jauh, kecemasan juga membuat siswa tidak fokus menjawab soal tetapi fokus untuk mengurangi kecemasan saja. Dengan meminimalisir tingkat kecemasan dalam mengikuti ujian berbasis komputer, diharapkan siswa dapat menunjukan kemampuan terbaiknya.
Status ekonomi juga berpengaruh kepada pengalaman berkomputer siswa. Penelitian Bovee et. al. 2007 menemukan bahwa siswa di sekolah pinggiran memiliki akses dan pengalaman komputer yang lebih rendah daripada siswa di sekolah yang memiliki orang tua kelas menengah ke atas. Akses dan pengalaman dalam mengoperasikan komputer ini berpengaruh kepada sikap mereka terhadap komputer. Muaranya, sikap ini berpengaruh pada hasil tes siswa.
Selanjutnya adalah perlunya diperhatikan aspek computer self-efficacy yaitu seberapa percaya diri  seorang siswa melihat dirinya dapat sukses dalam mengerjakan tugas atau tes berbasis komputer. Computer self-efficacy ini berperan signifikan dalam menentukan keberhasilan siswa dalam tes. Hasil studi yang dilakukan oleh Wilfong (2006) menjelaskan bahwa Computer self-efficacy berperan paling signifikan untuk menurunkan tingkat kecemasan siswa dalam mengikuti ujian berbasis komputer. Dengan berkurangnya tingkat kecemasan, siswa dapat lebih fokus untuk mengerjakan soal dan dapat menunjukan kemampuan terbaiknya. Harapannya, hasil ujiannya dapat lebih maksimal.
Usaha untuk memastikan kesetaraan UNBK dapat dimulai dengan kehati-hatian dalam merancang tes berbasis computer. Hal tersebut adalah aspek penting dalam menentukan keseteraan kualitas dengan UNKP. Perhatian khusus perlu diberikan pada hal-hal kecil yang terlihat sederhana seperti kombinasi warna latar soal, warna grafik dan gambar. Keterlibatan pakar evaluasi dan penilaian tes berbasis komputer pada proses rancangan tentu diharapkan sangat membantu menyetarakan kualitas tes.
Disisi lain, salah satu cara untuk mengurangi test anxiety, meningkatkan pengalaman komputer siswa dan kepercayaan dirinya dalam mengikuti ujian berbasis komputer adalah mengoptimalkan masa persiapan. Memberikan waktu kepada siswa untuk terbiasa dengan UNBK adalah penting. Membiasakan siswa dengan memperbanyak uji coba UNBK sebelum hari tes mungkin dapat mengurangi test anxiety. Membiasakan siswa dengan ujian berbasis komputer akan bermanfaat bagi siswa yang kurang mampu secara ekonomi dan tidak memiliki komputer di rumah untuk meningkatkan pengalaman mengoperasikan komputernya. Lebih jauh, pembiasaan terhadap moda ujian ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk dapat berhasil pada UNBK ini sehingga mereka tidak merasakan hambatan yang berarti dibanding siswa lain yang mengikuti UNKP.
readmore »»  

30 Jan 2017

Program Literasi Guru

Teman-teman blogger, berikut saya copy kan tulisan saya tentang Program Literasi Guru yang pernah dimuat pada Harian Padang Ekspress pada tanggal 24 Desember 2016. Berikut tulisan tersebut.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Program Literasi Guru
Oleh : Berry Devanda
Defenisi literasi mengalami perubahan sesuai dengan zaman. Beberapa dekade yang lalu literasi dapat diartikan membaca dan menulis saja. Bormuth (1973, p. 9) berpendapat bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan kemampuan dasar yang berharga bagi setiap manusia. Bourmuth, lebih jauh menjelaskan bahwa dengan kemampuan tersebut manusia bisa berkomunikasi dan menguasai ilmu pengetahuan. Sementara itu, pada saat sekarang literasi diartikan sebagai ‘kemampuan seseorang untuk memahami, mengevaluasi, menggunakan teks tertulis untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, mencapai tujuan, mengembangkan kemampuan dan potensi’ (OECD, 2016, p. 38). Perubahan defenisi terjadi karena kebutuhan manusia yang terus berubah sesuai dengan kondisi zaman. Salah satu contoh adalah beberapa dekade yang lalu seseorang hanya diminta memiliki kemampuan membaca dasar, namun saat ini karena tuntutan pekerjaan, seseorang diminta untuk memiliki kemampuan membaca dan menulis pada tingkat tertentu. Kemampuan literasi yang rendah akan menyulitkan seseorang dalam memahami sebuah petunjuk teknis kegiatan, sebagai contoh, instruksi minum obat dari dokter dan lain sebagainya. Mengingat fungsinya yang penting, maka peningkatan kemampuan literasi akan berdampak positif pada kehidupan seseorang.
__________________________________
Baca Juga :

__________________________________
OECD pada tahun 2016 merumuskan enam tingkatan kemampuan literasi orang dewasa. Tingkatan paling rendah adalah dibawah 1 dan paling tinggi adalah level 5. Seseorang yang memiliki kemampuan dibawah level 1 hanya dapat memahami teks pendek yang tidak memerlukan pengetahuan struktur kalimat dan paragraf untuk menyelesaikannya. Pada tingkatan tertinggi (level 5), seseorang mampu menggabungkan informasi dari banyak teks dan membuat model logika. Pada tahapan ini, seseorang dapat mengevaluasi realibilitas sebuah teks dan kemudian mengambil kesimpulan level tinggi.
UNESCO pada tahun 2015 melaporkan bahwa 93.9% penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun dilaporkan sudah melek aksara, namun kemampuan literasi masyarakat Indonesia masih dikategorikan rendah. Data terbaru melaporkan bahwa kurang dari 1% orang dewasa (usia 16 sampai 65 tahun) di Jakarta yang memiliki kemampuan literasi tertinggi (Kankaraš, Montt, Paccagnella, Quintini, & Thorn, 2016). Pada level tertinggi ini, orang dewasa mampu untuk mengintegrasi, menginterpretasi dan mensintesa informasi yang panjang dan kompleks. Disisi lain, hampir 70% orang dewasa Jakarta memiliki kemampuan literasi yang rendah yaitu pada level 1 atau lebih rendah (OECD, 2016). Persentase tersebut merupakan nilai terbesar dari 33 negara yang disurvey. Walaupun hasil survey tersebut tidak secara langsung dapat disimpulkan mewakili kondisi Indonesia, temuan di Ibu kota negara tersebut memberikan gambaran tentang diperlukannya usaha untuk meningkatan kemampuan literasi orang dewasa atau angkatan kerja. Mengingat pentingnya kemampuan literasi bagi kesuksesan orang dewasa dan data OECD (2016) tentang rendahnya kemampuan literasi angkatan kerja termasuk guru, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan kemampuan literasi.
Guru membutuhkan kemampuan literasi yang baik untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya yang tertulis dalam pasal 20 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Salah satu contoh adalah kewajiban untuk melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu. Pembelajaran yang bermutu dapat dilaksanakan oleh guru dengan persiapan yang baik, kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, penguasaan pengetahuan ilmu pendidikan. Kemampuan literasi yang baik sebagai salah satu bentuk keahlian, akan membantu guru berinovasi (Wright & Sissons, 2012), sehingga kewajiban guru untuk menghadirkan proses pembelajaran yang bermutu di dalam kelas dapat tercapai. Guru yang memiliki kemampuan literasi yang baik dapat mengumpulkan informasi dengan efektif untuk melaksanakan pembebelajaran yang bermutu. Selain itu, kemampuan literasi guru yang baik diprediksi juga dapat meningkatkan kualitas komunikasi tertulis dengan siswa, contohnya komentar pada hasil kerja siswa dan juga komentar pada rapor siswa.
Kemampuan literasi yang baik juga dibutuhkan guru untuk memenuhi salah satu standar kompetensi yaitu melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Menyusun laporan PTK membutuhkan beberapa keahlian seperti membaca efektif untuk dapat menemukan teori pendukung di dalam Kajian Pustaka. Disisi lain, juga dibutuhkan kemampuan untuk mengelompokan literatur berdasarkan topik yang sedang diteliti. Oleh karena itu, kemampuan literasi menjadi hal sangat penting untuk melakukan kajian pustaka pada penyusunan laporan PTK. Mengingat untuk dapat menemukan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber bacaan merupakan tantangan tersendiri dalam menyusun laporan PTK, maka kemampuan literasi menjadi hal yang sangat penting.
            Disamping kemampuan membaca yang baik, penyusunan laporan PTK juga membutuhkan kemampuan menulis. Kemampuan menulis seperti menghilangkan kata yang tidak perlu dalam kalimat membutuhkan pengalaman menulis dan latihan. Disisi lain, membuat paragraf yang memiliki ide pokok yang jelas juga membutuhkan latihan. Lebih jauh, menghubungkan satu paragraf dengan paragraf sebelum atau sesudahnya juga merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam membuat karya tulis ilmiah seperti laporan PTK.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan sekolah untuk meningkatkan kualitas literasi guru adalah dengan ‘Program Literasi Guru’. Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan juga ditekankan bahwa sekolah mempunyai tugas untuk membantu pengembangan profesionalisme guru. Pada tahap awal, sekolah harus membentuk tim Program Literasi Guru. Tim tersebut dipimpin sendiri oleh kepala sekolah dan beranggotakan perwakilan wakil kepala sekolah, guru dan staf sekolah serta komite sekolah. Jumlah anggota tim disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan sekolah. Tim tersebut bertugas untuk merancang, menjalankan dan mengevaluasi program ini. Lebih jauh, tim ini yang bertanggung jawab untuk menentukan tujuan program, rincian kegiatan, rancangan pendanaan dan evaluasi.
Sebelum memulai merencanakan program lebih jauh, sekolah melalui tim yang sudah dibentuk melakukan identifikasi kemampuan literasi guru-guru. Tahapan ini penting karena dapat mengumpulkan informasi tentang sejauh mana level kemampuan literasi guru. Selain memberikan data tentang kondisi literasi guru, informasi tersebut dijadikan dasar atau acuan dalam menentukan prioritas kegiatan peningkatan kemampuan literasi guru. Analisa awal ini juga akan memberikan informasi tentang tantangan dan hambatan yang akan dihadapi pada upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi guru ini.
Langkah berikutnya adalah merancang bentuk kegiatan sesuai dengan analisis kebutuhan yang sudah dilakukan. Beberapa program dapat dijadikan pilihan untuk meningkatkan kemampuan literasi guru salah satunya adalah pelatihan berkelanjutan. Pelatihan berkelanjutan adalah pelatihan berkesinambungan yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu misalnya satu semester. Dalam rentangan waktu tersebut, setiap minggunya, dipilih satu topik khusus untuk disajikan. Beberapa topik berkaitan dengan kemampuan membaca yang dapat dimasukan kedalam program literasi guru adalah teknik membaca cepat, teknik membaca efektif menjadi pembaca aktif. Selain itu, beberapa topik pelatihan untuk meningkatkan kemampuan menulis guru adalah memahami struktur falam kalimat kompleks, teknik untuk menghilangkan kata-kata yang tidak perlu dalam kalimat, membuat kalimat kompleks dan menulis paragraf yang ideal. Pelatihan tersebut juga dapat dikombinasikan dengan program sekolah lainnya seperti pelatihan penulisan laporan PTK.
Salah satu tantangan dari pelatihan ini adalah menghadirkan instruktur atau tutor, namun permasalahan ini dapat diselesaikan melalui beberapa cara. Instruktur pelatihan dapat diminta dari dua kelompok. Kelompok pertama didatangkan dari perguruan tinggi terdekat sedangkan kelompok kedua dapat dimanfaatkan guru-guru dari kelompok mata pelajaran Bahasa seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Guru-guru tersebut juga dapat didatangkan dari sekolah lainya dengan memanfaatkan peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Topik-topik yang dibahas dalam satu semester didistribusikan kepada kedua pihak untuk dipilih dengan mempertimbangkan faktor keilmuan, biaya dan waktu.
Metoda pelatihan harus mengedepankan unsur kolaborasi. Pembelajaran kolaboratif mempunyai banyak manfaat baik secara akademik maupun sosial. Manfaat pembelajaran kolaboratif secara akademik diantaranya adalah meningkatkan kemampuan berprikir kritis dan mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif (Laal & Ghodsi, 2012, p. 487). Lebih jauh, Laal and Ghodsi (2012) menjelaskan bahwa secara sosial, salah satu manfaat pembelajaran kolaboratif adalah menciptakan komunitas pembelajar. Untuk membuat pelatihan lebih kontekstual, bahan ajar yang digunakan hendaknya berhubungan langsung dengan tugas guru seperti analisa Permendikbud tentang dengan standard penilaian. Analisa tersebut dapat langsung dituangkan sebagai salah satu kajian pustaka pada penulisan laporan PTK.
Waktu pelaksanaan setiap minggu yang efektif adalah satu jam oleh karena itu topik yang disajikan dalam pelatihan haruslah spesifik. Massachusetts Institute of Technology menyarankan mahasiswanya untuk membagi waktu belajarnya kedalam beberapa bagian. Durasi waktu belajar yang efektif adalah satu jam. Lebih jauh, belajar yang paling efektif adalah dalam satu jam dengan rincian 50 menit belajar dan 10 menit jeda. Jika program pelatihan peningkatan literasi guru ini dirancang dengan baik, maka penggunaan waktu satu jam dalam tiap sesi latihan adalah yang paling efektif.
Ada beberapa sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan kegiatan ini. Sumber dana pertama adalah dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Menurut standar pengelolaan dana BOS Sekolah Menengah Atas (SMA), salah satu komponen pembiayaannya adalah peningkatan mutu guru. Salah satu poin pada standar itu disebutkan bahwa Dana BOS dapat digunakan untuk mengadakan ‘In House Training (IHT)/workshop/lokakarya untuk peningkatan mutu’. Pembiayaan tersebut diantaranya dapat meliputi (poin D) biaya fotokopi, konsumsi dan jasa profesi bagi narasumber.
__________________________________
Baca Juga :

__________________________________
            Sumber pendanaan kedua bisa didapatkan dari swadaya guru sendiri. Mengingat program ini bermanfaat untuk meningkatkan profesionalisme, guru dapat diminta untuk berpartisipasi dalam bentuk membawa sendiri makan siang mereka. Para guru juga dapat berpartisipasi dalam bentuk mengganti biaya fotokopi bahan pelatihan. Disamping itu, sumber pendanaan ketiga juga dapat diperoleh dari pihak ketiga seperti pemerintah daerah dan lembaga-lembaga lainnya. 

Efektifitas peran sekolah dalam meningkatkan kemampuan literasi guru melalui Program Literasi Guru ini dapat diketahui dengan evaluasi yang baik. Rencana evaluasi ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan program ini sudah tercapai. Disisi lain, evaluasi program ini juga dapat memberikan informasi spesifik tentang kualitas bahan ajar yang digunakan selama pelatihan dan juga instruktur, tepat atau tidaknya metoda latihan yang digunakan, efektifnya durasi waktu latihan dan teknologi yang digunakan. Lebih jauh, evaluasi ini juga memberikan gambaran tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas program ini dimasa yang akan datang.
readmore »»