31 Agt 2010

18 Tahun Rezim Waktu

Panggilan azan Shalat jumat mengalun merdu ketika saya memasuki halaman masjid tempat saya biasa menunaikan ibadah yang khusus dirancang untuk kaum adam. Di masjid inilah, saya menunaikan shalat jumat pertama kalinya ketika kecil dulu. Ketika itu, saya diajak orang tua untuk menjadi laki-laki muslim dengan menunaikan shalat jumat. Senang rasanya ketika itu. Serasa menjadi laki-laki dewasa saja. Masih teringat dalam benak, orang tua saya mendekatkan jari telunjuk ke mulutnya, sebagai tanda untuk meminta saya diam ketika saya menanyakan sesuatu hal dengan suara yang agak menggema. sebuah pelajaran yang diberikan bahwa setiap jamah harus mendengarkan setiap perkataan khatib dengan cermat, detil. Walaupun saat ini, saya sering berhayal tentang hal lain ketika sedang mendengar khatib berkhutbah.

Seperti biasa, memasuki ruangan masjid mencari saf yang masih kosong. Kali ini saya menempati barisan ketiga. Cukup strategis untuk mendengarkan khatib. Tapi, tunggu sebentar. Bukan, bukan itu tujuan sebenarnya dari pilihan barisan saf ini. Dari pintu masjid tadi saya melihat dilangit-langit tempat saya duduk ini, ada kipas angin yang cukup nyaman, kipasan angin ini yang “memaksa” saya untuk memilih tempat ini.

Masjid ini, masih seperti yang dulu. tidak banyak berubah. 18 tahun lamanya semenjak pertama kali saya berjumat disini, rasanya tidak banyak berubah. Hanya tempat berwuduk yang sudah perbarui. Saya palingkan pandangan ke semua sisi bagian depan. Di sebelah kiri depan, saya melihat seorang Bapak yang sudah lama saya kenal, tetangga sebelah rumah. Ketika awal-awal saya berjumat dulu, rasanya beliau masih begitu muda, pekerjaannya yang berat membuat dia berbadan kekar, rambutnya hitam, tampan. Namun hari ini, seperti antiklimaks dari 18 tahun yang lalu. Beliau sudah terlihat tua, badan kekarnya dulu tiada lagi, rambutnya sudah memutih, lengkap dengan keriput kulitnya dan berbagai atribut ketuaan lainnya. hah...ternyata waktu telah merenggut semua darinya.

Saya palingkan lagi pandangan ke sebelah kanan depan. Dari samping kirinya, saya bisa dengan jelas mengenali orang ini. Beliau orang tua teman sepermainan ketika kecil. Saya hafal betul wajahnya, karena dulu hampir setiap hari saya berlalu lalang di depan rumahnya, bermain di halaman belakangnya, sesekali berkelahi dengan anaknya. Dia yang dulu sangat energik, sekarang seperti malas untuk bergerak. Pandangannya sudah tidak setajam dulu. saya masih ingat ketika dia menghardik sambil menatap kejam kami yang sedang bermain merusak pekarangannya. Kami semua kabur tunggang langgang karenanya. Tapi sekarang itu semua sudah tidak ada.

Saya puaskan memandang ke sekeliling. Satu persatu saya pandangi jamaah lainnya. Saya mengenal mereka satu persatu, karena memang para jamaahnya itu-itu saja semenjak saya kecil. Yang tua satu per satu menghilang dari barisan saf jumat ini, yang muda sudah mulai keriput dan lemah, kawan-kawan sepermainan dulu sekarang menjadi laki-laki dewasa, adik-adik dibawah saya pun sekarang mulai menampakan kedewasaannya. Dibarisan belakang saya melihat anak-anak kecil mendengarkan khutbah sambil bercengkrama sesama mereka.
Seketika terlintas dalam benak saya, sebentar lagi, justru anak-anak kecil itulah yang berfikiran sama dengan apa yang sedang saya pikirkan saat ini. tentu mereka juga akan memandang saya sebentar lagi menjadi tua.
Ah...begitu cepat waktu ini berlalu. Rasanya baru kemarin saya bermain riang gembira tanpa beban dengan anak-anak tetangga. Sekarang, satu-satu persatu tanggungjawab ditumpangkan ke pundak saya.

Ah...banyak hal yang belum saya tunaikan. Banyak cita yang belum terpenuhi. Banyak kesalahan yang belum terampuni. Lambat laun saya merasakan perjalanan hidup semakin mendekati ujung. Sebentar saja rupanya. Sebentar saja 18 tahun yang lalu.

Saya jadi teringat kata bijak yang cukup mengena dengan apa yang saya rasakan kali ini.

“Jika ada pertanyaan Apakah yang paling dekat dari anda? Jawabannya adalah 1 detik yang akan datang.
Jika ada pertanyaan Apakah yang paling jauh dari anda? Maka jawabannya adalah 1 detik yang telah berlalu.”

Salam Berry Devanda

Tulisan ini saya ikutkan pada hajatan Agustus di Cerita Eka.

4 komentar:

  1. Berryyyyy ^_^
    lama gak berkunjung, eh lsh memeriahkan hajatan ceritaeka. TQ so much yah!
    Saya catat utk dinilai dewan juri :)

    Salam,
    EKA

    BalasHapus
  2. jadi bikin instrospeksi :)
    nice post euy

    BalasHapus
  3. ikut menjadikan perenungan..

    BalasHapus

Ketikan Komentar anda dengan memilih pada opsi beri komentar sebagai Name/URL....